Tularkan "Mantra" Menulis ke Guru Kudus, Gol A Gong: Minat Baca Warga Tinggi, Cuma Akses Buku Kurang!

19 Agustus 2026



KUDUS – Penguatan budaya literasi di lingkungan sekolah menjadi perhatian dalam pelatihan penulisan fiksi mini yang menghadirkan Duta Baca Indonesia Gol A Gong di SMP Negeri 1 Jati Kudus, Rabu (19/8/2026). Kegiatan tersebut menyasar para guru agar kemampuan membaca dan menulis pendidik ikut berkembang sekaligus menjadi contoh bagi siswa.

Pelatihan itu menjadi bagian dari rangkaian Safari Literasi Jawa yang berlangsung di Kabupaten Kudus. Para guru mendapat pembekalan mengenai penulisan fiksi mini, sekaligus diajak melihat pentingnya kebiasaan membaca sebelum menghasilkan sebuah tulisan.

Bunda Literasi Kudus Endhah Endayani Sam'ani Intakoris mengatakan, keterlibatan guru dalam kegiatan literasi diharapkan mampu memperluas gerakan membaca dan menulis hingga ke lingkungan peserta didik.

"Tujuannya adalah literasi di Kabupaten Kudus kita coba lagi untuk bisa ditingkatkan lagi secara lebih meluas," kata Endhah.

Menurutnya, guru menjadi sasaran penting karena memiliki anak didik yang setiap hari berinteraksi dengan mereka. Dengan membekali pendidik melalui kegiatan literasi, diharapkan kebiasaan tersebut dapat diteruskan kepada siswa di sekolah.

Sementara itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah Rahmah Nur Hayati mengatakan, pelatihan menulis bagi guru menjadi salah satu cara untuk membangun budaya literasi dari lingkungan sekolah.

Ia menyebut terdapat 27 SMP negeri dan 28 SMP swasta di Kudus yang menjadi bagian dari ekosistem pendidikan. Menurutnya, guru di sekolah perlu memiliki kemampuan literasi yang baik karena mereka menjadi salah satu panutan bagi peserta didik.
"Ketika menulis pasti harus membaca dulu. Minat baca di guru harus menjadi teladan anak didiknya," ujarnya.

Rahmah menilai kebiasaan membaca tidak cukup hanya disampaikan melalui imbauan kepada siswa. Guru juga perlu menunjukkan praktik membaca dalam keseharian sehingga peserta didik mendapatkan contoh secara langsung.

"Jadi sebelum mengajak guru-guru juga harus mempunyai minat baca yang patut diteladani," ungkapnya.

Ia berharap penguatan literasi dapat dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan sekolah, taman bacaan, perpustakaan desa, dan berbagai unsur lainnya. Sinergi tersebut dinilai dapat menciptakan lingkungan yang mendukung masyarakat untuk membaca dan menghasilkan karya.

Rahmah juga menekankan pentingnya pengembangan perpustakaan di berbagai tingkatan. Menurutnya, perpustakaan tidak semestinya hanya menjadi tempat meminjam buku, tetapi harus berkembang menjadi ruang belajar, pemberdayaan, kreativitas, dan inovasi.

"Perpustakaan tidak hanya untuk pinjam buku. Menjadi pusat belajar, pusat pemberdayaan, kreativitas dan inovasi ada di sini," jelasnya.

Ia menambahkan, perpustakaan sekolah juga perlu membuka akses bagi masyarakat di sekitar. Koleksi perpustakaan, baik dalam bentuk buku fisik maupun digital, dapat dimanfaatkan lebih luas untuk mendukung kebutuhan belajar masyarakat.

Karena itu, digitalisasi dan transformasi perpustakaan dinilai menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan budaya literasi. Pemanfaatan layanan secara langsung maupun digital diharapkan semakin memperluas jangkauan bahan bacaan.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus Mutrikah mengatakan, pihaknya terus menghadirkan kegiatan kreatif agar perpustakaan tidak hanya dikenal sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku.

Menurutnya, kegiatan literasi yang dikemas secara beragam dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk datang, membaca, sekaligus mengikuti aktivitas yang dapat meningkatkan kemampuan.

"Kami sangat senang karena mendapat kesempatan mengundang beliau dan hadir bersama kita semuanya untuk memberikan semangat kepada masyarakat Kudus agar mempunyai budaya membaca atau budaya literasi," katanya.

Mutrikah menjelaskan, Dinarpus Kudus juga melibatkan berbagai pihak dalam menjalankan program literasi. Kerja sama dilakukan dengan lembaga pendidikan, komunitas budaya dan pariwisata, penggiat literasi, penulis, perusahaan, hingga kelompok penyandang disabilitas.

Ia berharap keberadaan berbagai kegiatan tersebut dapat membuat perpustakaan semakin hidup. Masyarakat tidak hanya datang untuk mencari buku, tetapi juga memperoleh pengalaman dan keterampilan baru.

"Ini memberikan satu warna tersendiri bagi masyarakat secara luas bahwa di perpustakaan sekarang ada kegiatan-kegiatan inovatif yang bisa menjadi magnet masyarakat untuk datang ke perpustakaan dan membaca buku," ujarnya.

Mutrikah menilai kehadiran Gol A Gong memberikan tambahan motivasi bagi peserta. Para guru dan pegiat literasi mendapatkan pengalaman mengenai proses menghasilkan tulisan yang dapat dikembangkan menjadi karya.

"Antusiasnya sangat luar biasa. Pak Gong memberikan trik-trik bagaimana membuat sebuah karya atau membuat tulisan," ungkapnya.

Sementara itu, Duta Baca Indonesia Gol A Gong mengatakan Safari Literasi Jawa merupakan bagian dari upaya mendekatkan kegiatan membaca dan menulis kepada masyarakat di berbagai daerah. Rangkaian kegiatan tersebut berlangsung mulai 7 Juli hingga 1 September 2026 dengan menyasar sekitar 29 kota.

Menurut Gol A Gong, setiap daerah memiliki rangkaian kegiatan yang berbeda, mulai dari diskusi, seminar, pembacaan puisi, pelatihan, hingga bimbingan teknis. Di Kudus, salah satu agenda yang dilakukan yakni pelatihan penulisan fiksi mini bagi guru di SMP Negeri 1 Jati.

Gol A Gong mengatakan dirinya melihat antusiasme masyarakat terhadap kegiatan literasi cukup besar. Ia pun menilai anggapan bahwa masyarakat Indonesia tidak memiliki minat baca perlu dilihat secara lebih kritis.

"Saya tahu sekali, saya saksi hidup bahwa masyarakat Indonesia itu minat bacanya tinggi. Hanya negara belum sanggup memenuhi hasrat itu," katanya.

Menurutnya, persoalan literasi bukan semata-mata mengenai kemauan membaca. Ketersediaan buku, akses perpustakaan, serta sarana pendukung menjadi faktor yang turut menentukan kemampuan masyarakat dalam mendapatkan bahan bacaan.

Ia menilai perpustakaan daerah mempunyai peran strategis untuk mempertemukan masyarakat dengan buku dan sumber pengetahuan. Karena itu, penguatan perpustakaan perlu berjalan beriringan dengan gerakan membaca dan menulis.

Gol A Gong juga melihat semakin banyak guru, siswa, penulis, dan komunitas yang mulai menghasilkan buku secara mandiri. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat memiliki potensi besar untuk menjadi pencipta karya literasi.

"Saya datang ke satu kota di Kalimantan, meluncurkan 700 buku yang ditulis guru dan murid. Kalau dikasihkan ke penerbit besar, menunggu antre lama. Nah, itu sedang tumbuh," ujarnya.

Ia berharap kegiatan pelatihan menulis di sekolah dapat melahirkan lebih banyak guru yang produktif menghasilkan karya. Dengan begitu, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga dapat menjadi contoh bagi siswa dalam membaca, menulis, dan berkarya.

Melalui kegiatan tersebut, penguatan literasi sekolah di Kudus diharapkan tidak berhenti pada kemampuan membaca. Kebiasaan membaca yang dibarengi kemampuan menulis diharapkan mampu membentuk ekosistem literasi yang lebih aktif di lingkungan sekolah maupun masyarakat.   ( JIMMY )