Kudus, kudusterkini.com - UMK – Semangat melestarikan budaya bangsa ditunjukkan melalui penyelenggaraan Seminar, Talkshow, dan Parade Berkebaya dalam rangka memperingati Hari Kebaya Nasional 2026 yang digelar oleh Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Cabang Kudus bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muria Kudus (UMK). Kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus ajakan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, untuk semakin memahami filosofi kebaya sebagai identitas budaya bangsa.
Menghadirkan narasumber Teresia Leony Widi Hastuti, S.E., M.M. dan Dr. dr. Reni Yuniati, Sp.D.V.E. Subsp. DT, M.H., acara diawali dengan parade berkebaya yang menampilkan beragam jenis kebaya Nusantara. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya diperkenalkan pada sejarah dan perkembangan kebaya, tetapi juga ragam jenis kebaya seperti Kebaya Kartini, Kebaya Jawa, Kebaya Encim, Kebaya Bali, Kebaya Kutu Baru, Kebaya Labuh, hingga Kebaya Modern beserta karakteristik dan filosofinya.
Ketua Ikatan Wanita (IW) UMK, Dra. Sri Widajanti Darsono, M.Si. mengatakan, kolaborasi antara IW UMK, PBI Cabang Kudus, dan FEB UMK merupakan bentuk komitmen bersama dalam menjaga warisan budaya Indonesia di tengah tantangan globalisasi.
"Kegiatan ini sebagai bentuk komitmen bersama dalam melestarikan budaya bangsa. Kampus dan organisasi kemasyarakatan memiliki peran strategis untuk menanamkan karakter, memperkuat nilai budaya, serta menghidupkan warisan leluhur di tengah kehidupan masyarakat," ujarnya.
Lebih lanjut, Sri Widajanti menuturkan, derasnya arus globalisasi dan perkembangan industri fesyen menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda untuk tetap menjaga identitas budaya. Menurutnya, kebaya bukan sekadar busana seremonial, melainkan simbol peradaban yang mengandung nilai kesopanan, ketangguhan, keanggunan, dan penghormatan terhadap tradisi Nusantara.
"Seluruh sivitas akademika, khususnya mahasiswa, diharapkan bangga mengenakan kebaya dalam berbagai kesempatan sebagai wujud nyata pelestarian budaya. Dengan mengenal akar budaya sendiri, akan tumbuh rasa cinta kepada Indonesia sekaligus semangat untuk menjaga dan mewariskan identitas bangsa kepada generasi mendatang," tambahnya.
Sementara itu, narasumber pertama sekaligus Ketua PBI Kudus, Teresia Leony Widi Hastuti, S.E., M.M. menjelaskan, setiap jenis kebaya memiliki karakteristik, fungsi, dan nilai budaya yang berbeda. Kebaya Kartini identik dengan lipatan vertikal di bagian depan, Kebaya Jawa menggunakan bahan transparan bermotif dengan potongan berbentuk V, Kebaya Encim merupakan perpaduan budaya Tionghoa dan Melayu, sedangkan Kebaya Bali memiliki ciri khas penggunaan obi atau selendang di bagian pinggang.
“Selain itu terdapat Kebaya Kutu Baru yang menggunakan bef, Kebaya Labuh yang berasal dari Riau dan telah diakui sebagai bagian dari warisan budaya tak benda, hingga Kebaya Modern yang berkembang mengikuti tren tanpa meninggalkan identitas Nusantara,” terang founder Terebatik itu.
Di sisi lain, narasumber Dr. dr. Reni Yuniati, Sp.D.V.E. Subsp. DT, M.H. menekankan, pelestarian budaya merupakan tanggung jawab generasi muda sebagai pewaris identitas bangsa. Menurutnya, budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan fondasi karakter dan modal sosial yang akan menentukan masa depan Indonesia.
"Kebaya bukan sekadar busana, melainkan manifestasi nilai luhur perempuan Nusantara yang memadukan keanggunan dan kekuatan. Generasi muda perlu menjaga esensi tradisi, namun tetap berani beradaptasi dengan perkembangan zaman agar budaya tetap hidup dan relevan," jelasnya.
Reni juga mendorong generasi muda memanfaatkan media sosial sebagai sarana diplomasi budaya melalui konten kreatif yang memperkenalkan kebaya kepada masyarakat dunia. “Pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui seremoni, tetapi juga melalui kreativitas, inovasi, digitalisasi, hingga pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis budaya,” pugkasnya. (Humas-UMK)