KUDUS, Kudusterkini.com – Di balik kesejukan udara pegunungan Wana Wisata Montel yang terletak di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, tersimpan kisah mistis dan nilai spiritual yang masih diyakini kuat oleh sebagian masyarakat hingga saat ini. Kawasan wisata alam yang berada di lereng Gunung Muria ini terus menyedot perhatian wisatawan.
Selain menawarkan panorama alam yang asri serta kolam pemandian alami yang menyegarkan, aliran air di kawasan Montel dipercaya memiliki daya penyembuhan atau khasiat pengobatan secara alami. Kepercayaan inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong dari berbagai belakangan wilayah.
Pengelola Wana Wisata Montel, Sunarko, mengungkapkan bahwa mitos serta kepercayaan terkait khasiat air Montel sebenarnya telah berkembang sejak puluhan tahun lalu dan melekat erat di tengah tradisi masyarakat lokal. Nilai historis dan spiritual kawasan ini menjadi magnet kuat yang tak lekang oleh waktu.
Berdasarkan cerita rakyat yang diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi, aliran air di lokasi tersebut memiliki keterkaitan erat dengan sejarah serta aktivitas keluarga Sunan Muria pada zaman dahulu. Hal inilah yang membuat keberadaan air Montel begitu dihormati dan dianggap tidak biasa.
"Banyak pengunjung yang datang ke sini bukan sekadar untuk berekreasi atau menikmati pemandangan alam semata. Ada juga sebagian dari mereka yang sengaja mengambil air ini untuk media pengobatan alternatif," ujar Sunarko saat ditemui di lokasi wisata.
Sunarko menceritakan salah satu pengalaman unik yang dialami oleh pengunjung kawasan tersebut beberapa waktu lalu. Momen mengejutkan itu terjadi hanya beberapa bulan menjelang datangnya bulan suci Ramadan.
"Ada warga dari Kabupaten Pati yang datang dalam kondisi sakit stroke cukup parah hingga harus dipapah oleh keluarganya. Namun, setelah mencoba mandi dan berikhtiar di sini, menurut pengakuan keluarganya kondisi fisiknya berangsur membaik secara signifikan," tuturnya.
Tak hanya untuk pengobatan, pada waktu-waktu tertentu seperti momen sakral bulan Suro dalam penanggalan Jawa, kawasan Wana Wisata Montel kerap didatangi oleh peziarah dan kelompok masyarakat tertentu. Mereka berkunjung untuk menjalankan tradisi spiritual maupun ritual sesuai kepercayaan masing-masing.
Kendati kental dengan nuansa tradisi dan spiritual, pihak pengelola menegaskan bahwa fungsi utama dari Wana Wisata Montel tetaplah sebagai destinasi rekreasi alam umum yang aman dan ramah bagi keluarga. Pengelola terus memantau dinamika aktivitas para pengunjung.
"Maka dari itu, kami selalu mengimbau serta mengingatkan seluruh pengunjung agar tetap menjaga etika, ketertiban, dan kebersihan lingkungan selama berada di area lokasi wisata," tegas Sunarko memberikan pesan.
Di luar berbagai cerita kepercayaan yang menyelimutinya, Wana Wisata Montel mencatatkan tren positif berupa kenaikan jumlah kunjungan wisatawan selama momentum libur sekolah tahun ini. Angka kedatangan pengunjung mengalami peningkatan drastis jika dibandingkan dengan hari biasa.
Pada hari-hari biasa (weekday), kawasan ini umumnya hanya dikunjungi sekitar 70 hingga 80 orang pengunjung per hari. Namun, saat memasuki musim liburan sekolah, lonjakan pengunjung bisa mencapai kisaran 200 orang setiap harinya.
"Mayoritas wisatawan yang berkunjung berasal dari wilayah eks-Karesidenan Pati, seperti Kudus sendiri, Jepara, Pati, Rembang, Grobogan, hingga Demak. Mereka memanfaatkan waktu libur untuk menikmati udara segar pegunungan," jelas Sunarko.
Ia menambahkan bahwa tidak sedikit pula rombongan wisatawan yang datang dari daerah yang jauh, seperti Blora, Tuban, hingga Cirebon. Para pengunjung luar daerah ini biasanya menyempatkan diri mampir ke Montel setelah selesai menunaikan ziarah ke Makam Sunan Muria.
Namun di balik ramainya tingkat kunjungan, pengelola kini mulai bersiap menghadapi tantangan tahunan berupa penyusutan debit air akibat masuknya musim kemarau. Memasuki periode bulan Juli hingga September, volume air terjun dan kolam secara alami mengalami penurunan.
Penurunan debit air ini terjadi lantaran berkurangnya curah hujan di area tangkapan air Gunung Muria, ditambah sebagian sumber air alami juga dimanfaatkan warga sekitar untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. "Kondisi serupa pernah terjadi cukup parah pada tahun 2023 lalu, di mana kemarau panjang sempat membuat aliran air mengering," ungkapnya.
Untuk dapat menikmati keindahan kawasan wisata alam ini, pengunjung tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam karena tarif tiket masuk dijual sangat terjangkau, yakni Rp 10.000 per orang. Lokasi ini beroperasi setiap hari mulai pukul 07.30 hingga 16.00 WIB, dengan batas toleransi kepulangan pukul 16.30 WIB demi keselamatan pengunjung mengingat area lembah pegunungan yang cepat gelap.
Respons positif juga datang dari para pelancong yang berkunjung, salah satunya Eva, wisatawan asal Kudus yang mengaku sudah dua kali datang ke lokasi ini. "Biaya masuknya sangat terjangkau, suasananya sejuk, dan lokasinya dekat dari rumah, jadi Montel ini sangat layak jadi pilihan rekreasi keluarga," pungkas Eva.