Pentas Seni Siswa Kelas 7 Meriahkan Penutupan MPLS SMP 2 Gebog, Kepala Sekolah Beberkan Program Unggulan Kelas Tahfidz Baru

17 Juli 2026

KUDUS, Kudusterkini.COM – Suasana halaman Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Gebog, Kabupaten Kudus, tampak sangat riuh dan dipenuhi antusiasme ratusan siswa pada Jumat pagi (17/07/2026). Kemeriahan tersebut bersumber dari acara penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi para siswa baru kelas 7 yang dirangkaikan secara apik dengan gelaran Pentas Seni (Pensi).


Rangkaian kegiatan pengenalan lingkungan sekolah yang berlangsung secara intensif selama lima hari penuh ini resmi ditutup dengan menampilkan berbagai macam potensi bakat dari para siswa baru. Panggung ekspresi yang didirikan di halaman sekolah menjadi saksi keberanian anak-anak dalam unjuk gigi memperlihatkan kemampuan non-akademik mereka.


Kepala SMP 2 Gebog, Ahadi Setiawan, menjelaskan bahwa konsep pelaksanaan kegiatan MPLS di sekolah yang dipimpinnya ini pada dasarnya selaras dengan instruksi resmi dari Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Kudus. Kendati demikian, pihak sekolah memberikan sentuhan kreatif pada hari pemungkas agar penutupan terasa berkesan bagi seluruh siswa baru.


“Ya terima kasih, kegiatan MPLS di SMP 2 Gebog ini Insya Allah sama dengan yang dilakukan di sekolah-sekolah lain sesuai dengan arahan dari dinas pendidikan,” ujar Ahadi Setiawan saat diwawancarai oleh awak media di lokasi acara pada Jumat (17/07/2026).



Ahadi Setiawan memaparkan bahwa agenda pengenalan sekolah ini telah berjalan dengan lancar tanpa kendala berarti sejak dibuka pada hari Senin awal pekan lalu. Penutupan di hari kelima ini memang sengaja dikemas secara interaktif dengan memprioritaskan pemetaan serta penampilan potensi bakat yang dimiliki oleh anak-anak didik baru.


Dalam jalannya pentas seni tersebut, ragam kemampuan siswa dipamerkan secara bergantian mulai dari penampilan tarik suara atau menyanyi, unjuk kebolehan olahraga lari, hingga lantunan syahdu ayat suci Al-Quran. Seluruh penampilan murni diisi oleh perwakilan siswa kelas 7 yang baru saja menyelesaikan masa adaptasi lingkungan sekolah mereka.


“Artinya apa, pelaksanaan ini berjalan selama 5 hari. Senin kami buka dan kita tutup di hari Jumat ini dengan menampilkan potensi-potensi bakat yang ada pada anak-anak. Ada yang nyanyi, ada yang lari, ada yang tilawah seperti tadi yang sudah kita lihat bersama,” tambahnya merinci.


Pihak manajemen sekolah menegaskan bahwa orientasi utama dari pelaksanaan konsep MPLS modern ini adalah untuk menciptakan ruang belajar perdana yang menyenangkan dan penuh kehangatan. Melalui pendekatan yang humanis tersebut, sekolah optimistis dapat menumbuhkan motivasi belajar dan semangat juang yang tinggi untuk kesuksesan masa depan anak didik.


“Dan ini sebagai wujud bahwa MPLS yang menyenangkan akan menambahkan semangat bagi anak-anak untuk sukses di waktu mendatang,” tutur Kepala Sekolah secara diplomatis menerangkan esensi dari kegiatan luar kelas tersebut


Selain menjadi panggung ekspresi seni, momen penutupan ini juga menjadi wadah krusial bagi para siswa untuk memperluas jaringan pertemanan antarlulusan Sekolah Dasar (SD). Perubahan atmosfer sosial dari bangku SD yang bermuatan murid relatif sedikit menuju jenjang SMP yang jauh lebih padat dinilai memerlukan proses adaptasi psikologis yang baik.


Ahadi menggambarkan bahwa di tingkat dasar dahulu, anak-anak mungkin hanya terbiasa berinteraksi dalam lingkup kelas kecil berkisar antara 15 hingga 30 teman sekelas saja. Namun kini, di lingkungan SMP 2 Gebog, interaksi sosial mereka meluas drastis seiring dengan besarnya kapasitas tampung rombongan belajar yang ada di sekolah setempat.


“Anak-anak bisa mengenal teman-teman sekitarnya yang dulu asalnya di SD hanya 15, 20, atau 30 anak, tapi sekarang ada 33 anak yang ada di setiap kelasnya. SMP 2 Gebog sendiri tahun ini membuka 9 rombel (rombongan belajar),” papar Ahadi Setiawan kepada media.


Kebijakan pembukaan sembilan rombel dengan kapasitas maksimal 33 anak per kelas tersebut mendapatkan restu khusus dari otoritas pendidikan terkait karena pertimbangan geografis wilayah. Letak astronomis dan geografis gedung SMP 2 Gebog yang berada di daerah lereng dan relatif terisolasi dari SMP negeri lainnya membuat pemenuhan kuota zonasi lokal menjadi prioritas utama pemerintah.


Guna menjamin keadilan dan kenyamanan psikologis anak, Ahadi Setiawan juga menggaransi penuh bahwa selama lima hari MPLS berlangsung, tidak ada satu pun penugasan yang bersifat memberatkan. Sekolah secara ketat melarang adanya tugas-tugas aneh atau atribut perpeloncoan yang membedakan latar belakang sosial ekonomi siswa.


“Insya Allah tidak ada tugas-tugas yang memberatkan. Setiap kali anak dikenalkan dengan wawasan wiyatama mandala dan langsung diajak beribadah bersama seperti salat berjamaah. Nanti saat hari libur saja mereka tidak salat berjamaah di sekolah,” urainya memastikan komitmen sekolah ramah anak.


Di samping menutup MPLS, momentum awal tahun ajaran ini juga dimanfaatkan sekolah untuk menyaring bakat spiritual melalui program unggulan Kelas Tahfidz Al-Quran. Seleksi ketat ini ditujukan bagi siswa kelas 7 baru yang berminat mendalami hafalan kitab suci, menyusul kesuksesan angkatan pertama kelas 8 yang sebelumnya berhasil meluluskan 19 siswa berpredikat hafal Juz 30 dengan penambahan tenaga pengajar dari 2 ustadz menjadi 4 ustadz.


Untuk mendukung penuh program kelas tahfidz serta pembinaan karakter religius siswa, SMP 2 Gebog saat ini juga tengah mengebut proyek pembangunan masjid sekolah. Pihak sekolah memohon doa restu agar sarana ibadah utama ini dapat berjalan lancar dan ditargetkan bisa rampung sepenuhnya pada bulan Oktober 2026 mendatang.