KUDUS, Kudusterkini.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus terus memperkuat komitmennya dalam menekan angka kasus stunting hingga mencapai target nol persen. Komitmen tersebut ditunjukkan melalui aksi nyata jajaran pemangku kepentingan yang turun langsung ke lapangan guna memastikan kesehatan balita di daerah tersebut terpantau dengan baik.
Langkah konkret ini terlihat saat Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Kudus, Endhah Sam'ani Intakoris, melakukan kunjungan langsung door to door ke rumah warga yang memiliki anak terindikasi stunting. Kegiatan jemput bola tersebut menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah daerah dalam mengawal tumbuh kembang generasi penerus.
Dalam aksi sosial dan kesehatan ini, Endhah tidak bergerak sendirian. Beliau didampingi oleh rombongan tenaga medis dari Rumah Sakit (RS) Mardirahayu, perwakilan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kudus, serta jajaran Dinas Sosial P3AP2KB Kabupaten Kudus pada Rabu, 22 Juli 2026.
Sasaran utama dalam kunjungan kali ini menitikberatkan pada dua rumah warga yang berlokasi di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati. Kedua rumah tersebut menjadi bagian dari prioritas monitoring ketat tumbuh kembang anak oleh tim gabungan.
Langkah pengawalan ini merupakan bagian integral dari program unggulan "GENTING" (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting). Di Kecamatan Jati sendiri, terdapat enam balita yang masuk dalam daftar sasaran intervensi dan pemantauan program tersebut.
Secara teliti, Endhah mengawal langsung seluruh tahapan pemeriksaan fisik balita. Proses pengecekan kesehatan ini meliputi penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, hingga pengukuran lingkar lengan dan lingkar kepala secara rinci..
Di sela-sela peninjauan, Endhah menegaskan bahwa pemantauan ketat harus terus dilakukan secara konsisten. Menurutnya, keberhasilan menekan angka stunting tidak boleh membuat semua pihak yang terlibat menjadi lengah.
"Meskipun di Kabupaten Kudus sendiri angka stunting sudah menurun banyak, tapi kita tetap harus mengawal. Kegiatan kali ini merupakan kelanjutan dari program yang sudah berjalan bersama RS Mardirahayu untuk mendampingi enam anak di Kecamatan Jati," tuturnya di lokasi.
Lokasi pertama yang dikunjungi tim berada di Desa Jati Wetan RT 1 RW 2. Di rumah ini, tim medis melakukan pemeriksaan fisik lengkap terhadap seorang balita laki-laki berusia dua tahun bernama Sapdo Pamungkas.
Dari hasil pengukuran fisik di tempat, Sapdo tercatat memiliki berat badan 11,4 kilogram dengan tinggi badan mencapai 78 sentimeter. Tim langsung mencatat grafik perkembangannya untuk dievaluasi secara berkala.
Selanjutnya, rombongan bergerak menuju lokasi kedua yang berada di wilayah RT 1 RW 1 Desa Jati Wetan. Di lokasi ini, pemeriksaan dilakukan pada balita perempuan berusia dua tahun bernama Felicia Salsabila Nadhifa.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis setempat, Felicia memiliki berat badan 8,7 kilogram dan tinggi badan 78 sentimeter. Kondisi fisik Felicia mendapatkan perhatian ekstra dari tim pencegahan stunting.
Endhah menjelaskan bahwa perkembangan anak-anak ini akan dipantau dalam target waktu beberapa bulan ke depan. Setiap kunjungan akan mengevaluasi peningkatan berat badan, tinggi badan, serta lingkar kepala dan lengan untuk memastikan adanya progres yang positif.
Terkait kondisi Felicia yang memiliki berat badan lebih rendah, Endhah memberikan penjelasan mendalam. Menurut informasi dari pihak keluarga, balita tersebut baru saja sembuh dari sakit yang menyebabkan berat badannya sempat mengalami penurunan.
"Jadi untuk adek Felicia ini kemarin habis sakit dan memang berat badannya turun. Nanti akan kita kawal terus dan ada pendampingan intensif dari puskesmas serta rumah sakit," tambah Endhah memberikan penegasan.
Upaya jemput bola ini ditekankan sebagai strategi utama untuk menyukseskan cita-cita Pemkab Kudus menuju Zero Stunting. Endhah berharap tren penurunan kasus dapat terus dipertahankan dari tahun ke tahun hingga tidak ada lagi kasus baru yang ditemukan.
"Kemarin angka stunting kita berada di angka 13 persen, lalu berhasil turun drastis menjadi 3,7 persen. Namun, kita tetap harus mengusahakan lagi agar Kabupaten Kudus benar-benar bisa Zero Stunting," tandasnya optimistis.
Selain fokus di Kecamatan Jati, Endhah membeberkan bahwa wilayah Kecamatan Dawe saat ini masih menjadi perhatian khusus dalam pemetaan kasus stunting. Edukasi intensif mengenai pola asuh dan asupan gizi seimbang terus digencarkan di daerah tersebut.
Ia juga membagikan tips praktis bagi para ibu dalam mengolah makanan bergizi agar anak tidak gampang bosan. Pengolahan makanan yang kreatif menjadi kunci agar anak mau mengonsumsi asupan tinggi protein seperti telur dan susu.
"Kalau anak bosan dengan makanan telur atau susu, harus diolah secara menarik agar mereka suka. Anak wajib mengonsumsi susu dan protein tinggi agar terhindar dari risiko stunting," imbaunya.
Aksi tanggap Pemkab Kudus ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat penerima manfaat. Pasri (45), ibu dari balita stunting di RT 1 RW 2, mengaku sangat bersyukur dan terharu atas perhatian besar yang diberikan pemerintah daerah.
Selain mendapatkan pendampingan medis, keluarga balita juga menerima bantuan paket makanan tambahan berupa telur dan susu. "Senang sekali dapat bantuan, ada susu dan telur. Ini Alhamdulillah anak saya sehat," ucap Pasri dengan raut wajah bahagia.