KUDUS, Kudusterkini.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus, Jawa Tengah, bergerak cepat memperkuat infrastruktur kesehatan di wilayah pinggiran. Langkah strategis kini tengah diwujudkan melalui proyek renovasi besar-besaran di Puskesmas Jekulo.
Langkah taktis tersebut sengaja dilakukan oleh pemerintah daerah guna memperkuat kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara merata. Fokus utamanya adalah menyasar warga yang berdomisili di wilayah timur Kabupaten Kudus.
Berdasarkan data yang dihimpun, proyek pembenahan fasilitas kesehatan ini memakan biaya yang tidak sedikit. Rencananya, pekerjaan renovasi total tersebut dilakukan dengan alokasi anggaran mencapai Rp 5,7 miliar sesuai dengan nilai kontrak.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kudus, dr. Abdul Hakam, menegaskan pentingnya proyek ini bagi masyarakat luas. Menurutnya, keberadaan Puskesmas Jekulo sangat berpengaruh nyata terhadap upaya penanganan berbagai penyakit hingga ke tingkat grassroot atau akar rumput.
Fungsi puskesmas di era modern memang dituntut untuk tidak hanya sekadar mengobati warga yang sakit. Ke depan, fasilitas ini harus mampu mengedukasi masyarakat agar bisa menjaga kesehatan secara mandiri sejak dini.
”Puskesmas itu targetnya promotif dan preventif sehingga kita menginginkan di daerah timur itu Puskesmas Jekulo sebagai ujung tombak khusus,” ungkap Abdul Hakam saat memberikan keterangan kepada media pada Senin (13/7/2026).
Hakam menjabarkan, peran vital yang diemban puskesmas ini mencakup pemutusan mata rantai penyakit menular dan masalah gizi buruk. Pihaknya ingin pelayanan kesehatan di perbatasan berjalan secara optimal tanpa harus bertumpu pada rumah sakit pusat kota.
Melalui fasilitas yang lebih representatif kelak, program-program nasional berskala besar diharapkan bisa langsung menyentuh warga. Program eliminasi penyakit menular menahun seperti TBC, HIV, hingga penanganan Stunting ditargetkan bisa dikendalikan di wilayah timur melalui Puskesmas Jekulo.
Terkait linimasa proyek, Hakam menyatakan bahwa pekerjaan fisik renovasi Puskesmas Jekulo sebenarnya sudah dimulai sejak sebulan lalu. Sesuai kesepakatan tertulis di dalam kontrak kerja, para tukang mulai menggarap bangunan pada tanggal 5 Juni 2026.
Kini, memasuki bulan kedua pelaksanaan di lapangan, progres pembangunan menunjukkan tren yang sangat positif. Pekerjaan fisik struktur dan arsitektur di Puskesmas Jekulo dilaporkan sudah sukses mencapai angka 30 persen.
Menurut Hakam, capaian progres riil di lapangan tersebut menunjukkan adanya selisih positif dari target berkala yang telah ditentukan sebelumnya. Pihak kontraktor dinilai berhasil bekerja lebih cepat dari kalender perencanaan.
Berdasarkan target makro, pembangunan total Puskesmas Jekulo ditargetkan dapat selesai secara penuh pada bulan Oktober 2026 mendatang. Secara keseluruhan, waktu yang diberikan kepada pihak pelaksana proyek adalah selama 150 hari kalender.
Dinkes Kudus pun berharap agar kondisi cuaca di wilayah setempat terus mendukung proses konstruksi luar ruangan ini. ”Semoga nanti tidak ada hujan sehingga bisa lebih cepat penyelesaiannya. Akhir Oktober 2026 selesai, kita usahakan segera selesai sesuai target-target yang sudah ada,” terangnya.
Mengenai cetak biru bangunan baru, Hakam menyatakan bahwa renovasi Puskesmas Jekulo nantinya akan memperkuat kapasitas ruangan penting. Ruang lingkupnya meliputi peningkatan layanan ruangan IGD, layanan-layanan program terpadu, layanan poliklinik, hingga poli gigi.
Selain memperkuat fasilitas dasar, dinas terkait juga menyimpan rencana besar untuk meningkatkan kelas puskesmas ini. Pihaknya berharap ke depan Puskesmas Jekulo bisa menjadi tempat layanan praktik mandiri bagi dokter spesialis secara berkala.
Puskesmas masa kini, lanjut Hakam, harus terus memunculkan inovasi pelayanan terbaru yang adaptif. Salah satu fungsi krusial yang ingin dihidupkan pascarenovasi ini adalah terpenuhinya fungsi rehabilitatif bagi pasien pascarawat inap.
Sesuai aturan ketat kementerian, jumlah ruang inap di level puskesmas memang dibatasi agar tidak tumpang tindih dengan fungsi rumah sakit. ”Memang untuk angka rawat inap sudah diatur oleh Permenkes, tidak boleh lebih dari 10 kamar," jelas Hakam.
Meski demikian, masalah yang sering terjadi di lapangan adalah kesulitan pasien untuk kontrol pascapulang dari rumah sakit besar karena terkendala jarak. Oleh karena itu, kehadiran dokter spesialis di Puskesmas Jekulo nantinya diharapkan bisa menjadi solusi tempat rehabilitasi dan kontrol yang dekat bagi warga.
Sementara itu, Pelaksana Proyek, Putut Widiantoro, menyatakan optimismenya bahwa proyek ini bisa rampung sebelum jatuh tempo. Langkah percepatan pengerjaan di lapangan terus dilakukan dengan menambah jumlah pekerja konstruksi secara signifikan dari semula 40 orang menjadi 60 orang serta memberlakukan sistem lembur hingga pukul 18.00 WIB setiap harinya.