Diterjang Banjir, Talud Jembatan Santri Kudus Kini Diperkuat Bronjong BBWS: Akses Ribuan Warga Kembali Aman!

06 Juli 2026


KUDUS — Infrastruktur yang kokoh menjadi kunci keselamatan warga pascabencana. Guna mengantisipasi dampak kerusakan yang lebih meluas, talud di kawasan Jembatan Santri, Kelurahan Sunggingan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, yang sempat ambles akibat diterjang banjir, kini telah diperkuat menggunakan struktur bronjong dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).


Langkah cepat ini diambil sebagai respons konkret terhadap kondisi infrastruktur pascabencana. Penguatan tersebut menjadi bagian penting dari program penanganan darurat di tiga titik rawan longsor yang tersebar di wilayah Kelurahan Sunggingan, demi menjamin keselamatan warga sekitar sungai.


Keberhasilan proyek ini tidak lepas dari sinergi dan komunikasi yang intens antarinstansi pemerintah. Lurah Sunggingan, Rikho Mahardika Gautama, mengatakan bahwa pemasangan bronjong di Jembatan Santri merupakan hasil koordinasi taktis antara Pemerintah Kelurahan Sunggingan, Pemerintah Kabupaten Kudus, dan pihak BBWS.


Skala penanganan di titik ini terbilang cukup masif demi menahan laju erosi air sungai. Di lokasi tersebut, struktur bronjong kawat diisi batu belah dipasang sepanjang 81 meter untuk memperkuat struktur talud yang sebelumnya mengalami kerusakan parah akibat hantaman debit air yang tinggi.


"Kemarin kami mendapat bantuan pascabencana dari BBWS berupa bronjong untuk talud di tiga titik, salah satunya di Jembatan Santri. Berkat komunikasi dengan BBWS dan dukungan Bupati, kami mendapat bantuan sepanjang 81 meter," ujar Rikho saat ditemui di lokasi, Senin (6/7/2026).


Masyarakat sempat khawatir dengan kekuatan jembatan setelah talud di sekitarnya ambles. Namun, meski talud sempat mengalami kerusakan akibat banjir, Rikho memastikan kondisi Jembatan Santri secara keseluruhan hingga saat ini masih sangat aman untuk digunakan oleh masyarakat.


Tim teknis juga telah diturunkan ke lapangan untuk memeriksa kekuatan jembatan pascabencana. Hasil pemeriksaan menyeluruh pun menunjukkan bahwa pondasi utama, rangka baja, maupun konstruksi jembatan secara umum tidak mengalami kerusakan struktur yang membahayakan keselamatan pengguna jalan.


Pemerintah berkomitmen untuk menjaga aset publik ini agar dapat digunakan dalam jangka panjang. Rikho menjelaskan, pemerintah daerah juga rutin melakukan perawatan berkala terhadap jembatan tersebut setiap dua tahun sekali agar tetap dalam kondisi prima dan aman dilalui masyarakat tanpa rasa cemas.



"Kondisi jembatan ini baik. Pondasinya tidak ada masalah, baja juga tidak ada masalah, konstruksinya aman. Secara teknis kami melakukan perawatan berkala setiap dua tahun sekali," jelasnya secara detail kepada awak media.


Langkah mitigasi dan pemeliharaan ini dirasa sangat krusial mengingat fungsi vital dari infrastruktur penyeberangan tersebut. Keberadaan Jembatan Santri memiliki peran penting sebagai akses penghubung utama bagi mobilitas warga, khususnya bagi para pelajar yang menggantungkan rute ini setiap hari.


Anak-anak sekolah menjadi kelompok yang paling diuntungkan dengan kembalinya fungsi jembatan ini. Fasilitas ini menjadi jalur utama para pelajar dari wilayah Jetakkembang yang setiap hari menuntut ilmu dan bersekolah di Dukuh Sunggingan, Kelurahan Sunggingan.


Jika jembatan ini terganggu, pergerakan ekonomi dan sosial masyarakat di dua wilayah tersebut dipastikan akan ikut tersendat. Sebelum jembatan tersebut dimanfaatkan secara optimal seperti sekarang, masyarakat setempat harus memutar jalan dengan jarak yang cukup jauh.


Warga terpaksa mencari jalan memutar melalui Jembatan Tegal Arum di Kelurahan Sunggingan atau mengakses Jembatan Ploso di Desa Ploso. Kondisi ini jelas tidak efisien bagi rutinitas harian warga, terutama di jam-jam sibuk sekolah dan kerja.


Menurut Rikho, jalur alternatif yang jauh tersebut kerap menimbulkan persoalan sosial dan ekonomi baru karena dirasa memperpanjang waktu tempuh warga. Namun, dengan kondisi Jembatan Santri yang kini jauh lebih aman dan kokoh, aktivitas harian warga menjadi lebih mudah, cepat, dan efisien.


"Kalau sore hari jembatan ini ramai sekali. Anak-anak dari Jetakkembang rata-rata sekolahnya di Sunggingan. Dulu kalau hujan mereka harus memutar jauh. Sekarang dengan adanya jembatan ini, mereka bisa menyeberang dengan lebih aman," katanya dengan nada optimis.


Meskipun proyek ini sukses, Pemerintah Kelurahan Sunggingan tidak lantas berpuas diri dan menghentikan upaya mitigasi bencana. Rikho menambahkan, pihaknya masih terus berkoordinasi dengan BBWS agar penanganan serupa dapat segera dilakukan di kawasan rawan lainnya, seperti Jembatan Kaligelis.


Berdasarkan hasil pengukuran komprehensif, kebutuhan total penguatan talud di kawasan Jembatan Tegal Arum hingga Ploso sebenarnya mencapai sekitar 1.200 meter. Guna menyiasati anggaran, pihak BBWS berkomitmen memberikan bantuan secara bertahap sepanjang 80 hingga 100 meter setiap tahunnya.


"Kami akan terus komunikasi dengan BBWS agar bisa mendapatkan bantuan secara bertahap," tandas Rikho menyudahi penjelasannya mengenai rencana jangka panjang penataan bantaran sungai di wilayahnya.


Perlu diingat kembali, sebelum dipasang bronjong, kawasan aliran Sungai Kaligelis memang menjadi salah satu lokasi yang mengalami dampak kerusakan paling parah saat banjir melanda Kudus beberapa waktu lalu.


Daya rusak banjir kala itu sempat membuat warga sekitar dicekam rasa khawatir yang luar biasa. Longsor akibat gerusan air bahkan sempat mengikis badan jalan hingga kedalaman sekitar 1,5 meter, dan mengakibatkan sebagian area dapur serta kamar mandi milik warga ikut ambrol ke sungai.


Kini, setelah titik-titik rawan tersebut diperkuat dengan struktur bronjong yang solid, kondisi bantaran sungai dinilai jauh lebih stabil. Pemandangan tebing sungai yang rapi pasca-perbaikan ini pun sukses memberikan rasa aman dan ketenangan batin bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.