DEMAK – Penampilan salah satu grup drumband umum dalam rangkaian Gebyar Muharram ke-16 di kompleks MTs-MA NU Mranggen, Demak, menuai perhatian publik setelah videonya beredar luas di media sosial.
Pihak sekolah pun menyampaikan permohonan maaf sekaligus menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi untuk pelaksanaan kegiatan serupa di masa mendatang.
Kepala MTs NU Mranggen, Muhamad Abdul Kodir menjelaskan bahwa kegiatan yang digelar pada 16 Juni 2026 itu merupakan agenda rutin menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Acara tersebut tidak hanya menampilkan parade drumband, tetapi juga diisi berbagai kegiatan keagamaan dan penghargaan bagi siswa berprestasi.
Menurutnya, penampilan yang menjadi sorotan berasal dari kelompok drumband umum yang ikut meramaikan kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa para penampil bukan berasal dari siswa MTs NU Mranggen maupun peserta pelajar lainnya.
"Tampilan yang viral itu berasal dari grup drumband umum. Bukan dari siswa MTs NU Mranggen maupun peserta pelajar yang mengikuti kegiatan ini," ujarnya.
Kodir menjelaskan, penyelenggara sebenarnya telah memberikan arahan kepada seluruh peserta agar menjaga etika, ketertiban, serta menyesuaikan penampilan dengan karakter kegiatan yang berlangsung di lingkungan pendidikan dan keagamaan. Arahan tersebut juga telah disampaikan dalam rapat teknis sebelum acara digelar.
Namun, panitia mengaku tidak menduga akan muncul penampilan yang kemudian memicu perbincangan publik. Karena itu, pihak sekolah menerima berbagai masukan yang berkembang dan akan melakukan pembenahan pada penyelenggaraan kegiatan berikutnya.
"Gebyar Muharram tahun ini diikuti 26 grup drumband. Dari jumlah itu, hanya tiga grup yang berasal dari kalangan pelajar, yakni satu grup dari MTs NU Mranggen dan dua grup dari tingkat taman kanak-kanak. Selebihnya merupakan grup drumband umum dari berbagai daerah," katanya.
Kodir mengungkapkan bahwa berkurangnya jumlah peserta pelajar disebabkan banyak grup drumband sekolah yang saat ini tidak lagi aktif. Kondisi tersebut membuat panitia memberikan porsi lebih besar kepada peserta umum agar kegiatan tetap berjalan meriah.
"Kami biasanya membagi kuota antara pelajar dan umum. Karena banyak grup pelajar yang vakum, kuota tersebut akhirnya dialihkan kepada peserta umum," katanya.
Selain parade drumband, rangkaian Gebyar Muharram juga diisi kegiatan mujahadah, wisuda, serta pemberian apresiasi kepada siswa berprestasi. Salah satu bentuk penghargaan yang diberikan adalah hadiah sepeda motor bagi siswa yang berhasil menghafal 30 juz Al-Qur'an.
Pihak sekolah berharap masyarakat dapat melihat keseluruhan tujuan kegiatan yang berfokus pada syiar Islam, pembinaan karakter, serta pengembangan prestasi siswa. Meski demikian, masukan dari masyarakat tetap menjadi perhatian serius bagi panitia.
"Kami memohon maaf atas kegaduhan yang muncul. Kejadian ini menjadi bahan introspeksi agar kegiatan berikutnya dapat berlangsung lebih baik dan sesuai harapan semua pihak," tegas Kodir.
Ia menambahkan bahwa seluruh pihak, termasuk penyelenggara dan komunitas drumband, perlu bersama-sama menjaga etika penampilan sehingga kegiatan seni dan hiburan tetap dapat berjalan tanpa menimbulkan polemik di tengah masyarakat.
"Harapannya pelaksanaan Gebyar Muharram pada tahun-tahun mendatang dapat lebih tertata, tetap meriah, sekaligus selaras dengan nilai-nilai pendidikan dan keagamaan yang menjadi identitas lembaga," pungkasnya.