KUDUS – Lakpesdam PWNU Jawa Tengah menggelar Muktamar Ilmu Pengetahuan (MIP) IV Tahun 2026 di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus, Sabtu (27/6). Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi pemikiran untuk memperkuat peran Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi masyarakat sipil yang mandiri, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Mengusung tema Nahdlatul Ulama sebagai Masyarakat Sipil Keagamaan, Konsolidasi Gerakan, Kemandirian Organisasi, dan Transformasi Sosial, kegiatan menghadirkan akademisi, ulama, peneliti, aktivis, pengelola perguruan tinggi, hingga pengurus pesantren dari berbagai daerah.
Rektor UIN Sunan Kudus, Prof. Dr. Abdurrahman Kasdi mengatakan penyelenggaraan MIP IV merupakan kelanjutan tradisi intelektual yang dibangun sejak Muktamar Ilmu Pengetahuan 2023. Menurutnya, forum tersebut diharapkan mampu melahirkan gagasan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
"Ilmu pengetahuan harus menjadi energi perubahan sosial. Perkembangan teknologi dan sains juga perlu dibangun di atas fondasi moral dan spiritual agar tetap berpihak kepada kemanusiaan," ujarnya.
Dia juga menekankan pentingnya sejarah sebagai fondasi membangun karakter generasi muda. Menurutnya, tradisi intelektual pesantren harus terus dipelihara agar mampu melahirkan pemimpin yang memahami akar budaya sekaligus siap menghadapi perubahan zaman.
Melalui MIP IV, Lakpesdam PWNU Jawa Tengah berharap lahir rekomendasi strategis yang dapat memperkuat peran NU dalam bidang pendidikan, ekonomi, teknologi, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
"Dari Kudus, forum tersebut mengirimkan pesan bahwa ilmu pengetahuan harus menjadi fondasi utama gerakan sosial yang berorientasi pada kemaslahatan umat dan pembangunan peradaban bangsa," katanya.
Sementara itu, Guru Besar President University, Prof Muhammad AS Hikam menilai NU memasuki abad kedua dengan tantangan yang jauh lebih kompleks. Digitalisasi, perubahan geopolitik, ketimpangan ekonomi, hingga perkembangan teknologi menuntut organisasi keagamaan memiliki paradigma baru dalam menjalankan perannya.
Ia menegaskan NU tidak cukup hanya mengandalkan besarnya jumlah anggota ataupun kedekatan dengan kekuasaan. Organisasi harus memperkuat kemandirian melalui pengembangan pendidikan, ekonomi warga, riset, serta penguasaan teknologi.
"Keberhasilan NU tidak diukur dari besarnya struktur organisasi, tetapi dari kemampuannya membebaskan masyarakat dari kemiskinan, ketimpangan, dan berbagai persoalan sosial," katanya.
Sedangkan, Wakil Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. Ari Sujito, menyoroti pentingnya menjaga demokrasi dan memperkuat posisi masyarakat sipil. Ia mengingatkan agar NU tetap menjadi kekuatan moral yang mampu mengawal kebijakan publik serta tidak kehilangan daya kritis di tengah dinamika politik nasional.
Sesi lainnya menghadirkan Muhammad Mustafid yang mengulas pentingnya memperkuat hubungan antara jamaah dan jam'iyyah melalui penguatan data, kaderisasi, pendidikan, ekonomi, hingga pelayanan masyarakat.
Adapun Dr. Mayadina memaparkan keberhasilan Kelompok Lestari Mandiri di Jepara sebagai contoh pemberdayaan perempuan berbasis komunitas yang mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.