KUDUS, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Kudus resmi memulai tahapan seleksi Kelas Khusus Olahraga (KKO) tahun ajaran 2026/2027. Pelaksanaan seleksi yang dipusatkan di halaman utama sekolah tersebut ditinjau langsung oleh Kepala SMPN 3 Kudus, Sunaryo, pada Rabu (17/6/2026) pagi sekitar pukul 08.35 WIB.
Proses seleksi tahun ini menjadi perhatian publik, terutama terkait komitmen Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus dalam menjaga integritas. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana dinas menjamin proses seleksi berjalan 100% transparan dan bebas dari praktik "titipan" pejabat atau manipulasi nilai fisik.
Menanggapi hal tersebut, Kepala SMPN 3 Kudus, Sunaryo, menegaskan bahwa pihak sekolah menerapkan sistem keterbukaan penuh dalam seluruh tahapan seleksi KKO. Langkah nyata diambil untuk mengikis keraguan publik dan menutup celah manipulasi nilai.
"Sekolah sangat transparan dalam seleksi KKO ini. Sebagai bukti, orang tua pelamar diperkenankan masuk, mengikuti, dan menyaksikan langsung jalannya seleksi di lapangan," ujar Sunaryo di sela-sela memantau kegiatan.
Sunaryo menjelaskan, transparansi ini berlaku mutlak baik pada tes kemampuan umum maupun tes kemampuan khusus (fisik dan cabang olahraga). Dengan kehadiran orang tua yang mengawasi langsung performa anak-anak mereka, potensi kecurangan atau manipulasi data di meja panitia dapat ditekan hingga nol persen.
Terkait daya tampung, seleksi KKO tahun ini dipastikan tidak mengalami perubahan kuota dibanding tahun-tahun sebelumnya. SMPN 3 Kudus hanya membuka satu rombongan belajar (rombel) saja, dengan kapasitas maksimal yang diperebutkan adalah 32 siswa.
Meski kuotanya terbatas, variasi cabang olahraga (cabor) yang diakomodasi sangat luas. Tercatat ada 19 cabor yang dibuka, di antaranya sepak bola putra/putri, bola voli putra/putri, bola basket, tenis meja, tenis lapangan, panjat tebing, renang, karate, pencak silat, woodball, hingga anggar.
Dari belasan cabor tersebut, panitia mencatat antusiasme tertinggi berada pada sektor lapangan hijau. Cabang olahraga sepak bola, baik kategori putra maupun putri, menjadi cabor dengan jumlah pendaftar paling banyak pada seleksi tahun ini.
Menariknya, manajemen seleksi tidak memberlakukan kuota kaku atau batasan jumlah siswa yang harus diterima di setiap cabang olahraga. Sistem kelulusan murni menggunakan metode pemeringkatan nasional yang adil berdasarkan performa kumulatif atlet.
"Tidak ada batasan berapa yang harus diterima di setiap cabor. Dari cabor apapun, jika memang nilai hasil seleksi masuk *grade* dan menduduki ranking 1 sampai 32, maka itulah yang berhak diterima sebagai siswa KKO," jelas Sunaryo secara rinci.
Selain masalah transparansi masuk, publik dan orang tua murid juga kerap mempertanyakan masalah pembiayaan. Anggaran fasilitas latihan, kostum, hingga suplemen atlet KKO menjadi sorotan apakah ditanggung penuh oleh APBD melalui Dinas, ataukah masih ada beban mandiri yang harus dikeluarkan orang tua.
Menjawab tantangan tersebut, pembenahan regulasi pembiayaan ini sekaligus menjadi jawaban atas catatan merah dan evaluasi terbesar dari penyelenggaraan KKO tahun lalu. Dinas kini memastikan tata kelola anggaran dan pemenuhan hak atlet berjalan lebih optimal dan tepat sasaran pada tahun ini.
Bukan hanya urusan fisik dan anggaran, sinkronisasi kurikulum akademik juga menjadi fokus utama perbaikan. Dinas Pendidikan telah merancang skema kurikulum fleksibel agar para atlet KKO tidak tertinggal pelajaran umum saat mereka harus menjalani Pemusatan Latihan (TC) jangka panjang demi membela daerah.
Bagi para pendaftar yang nantinya belum beruntung menembus ketatnya persaingan 32 besar KKO, Kepala Sekolah meminta agar mereka tidak berkecil hati. Peluang untuk mengenakan seragam SMPN 3 Kudus masih terbuka lebar melalui jalur reguler.
"Bagi siswa yang belum beruntung diterima sebagai siswa KKO, masih ada kesempatan besar untuk menjadi siswa SMPN 3 Kudus melalui jalur Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) online," pungkas Sunaryo menutup wawancara.