Pemerintah Kabupaten Kudus terus mendorong penguatan sektor pariwisata berbasis budaya melalui gelaran Festival Tari Lajur Caping Kalo yang akan digelar di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus pada Minggu (24/5/2026).
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Teguh Riyanto mengatakan antusiasme peserta dalam festival ini sangat tinggi. Tercatat sebanyak 92 tim mengikuti seleksi dari tiga kategori, yakni tingkat SMP, SMA, dan umum.
”Dari hasil seleksi dewan juri, masing-masing kategori diambil empat finalis. Jadi total ada 12 regu yang nantinya tampil di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus pada 24 Mei 2026,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).
Dua belas regu itu antara lain, SMPN 1 Jati, SMPN 2 Kaliwungu, SMPN 2 Gebog, SMPN 2 Kudus untuk kategori SMP/sederajat. Lalu untuk kategori SMA yakni, SMAN 1 Kudus, SMAN 1 Mejobo, SMAN 2 Bae, dan SMKN 1 Kudus. Sedangkan kategori umum diisi oleh Dinas PKPLH, PKK Kecamatan Kota, Itekes Cendekia Utama, dan UKM Sekam UMK.
Menurut Teguh, festival tersebut tidak sekadar menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga bagian dari strategi pemajuan kebudayaan daerah yang telah diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Kudus.
Seni tari dipilih sebagai media untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan budaya lokal kepada generasi muda maupun masyarakat luas.
Ia menjelaskan, Tari Lajur Caping Kalo diangkat karena memiliki filosofi mendalam yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Kudus. Selain itu, keberadaan pengrajin caping kalo saat ini disebut tinggal dua orang sehingga perlu mendapat perhatian serius agar tetap lestari.
”Caping kalo ini harus diuri-uri. Salah satunya melalui kebijakan penggunaan pakaian adat Kudus bagi pegawai maupun masyarakat saat hari jadi daerah. Di situ ada unsur caping kalo yang menjadi identitas budaya Kudus,” katanya.
Teguh menambahkan, Tari Lajur Caping Kalo menggambarkan proses pembuatan caping kalo yang sarat nilai keuletan, kesabaran, dan konsistensi. Nilai-nilai tersebut diharapkan mampu membentuk karakter masyarakat yang tangguh dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan hidup.
”Makna tarian ini adalah membangun karakter masyarakat Kudus agar memiliki semangat pantang menyerah, ulet, dan konsisten dalam berusaha,” jelasnya.
Selain pementasan tari lajur caping kalo, dalam momentum itu juga akan dilakukan launching logo hari jadi Kudus ke-477 tahun.