Bupati Kudus Perkuat Literasi Budaya Lewat Pementasan Gadis Pingitan

10 Mei 2026


KUDUS - Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyaksikan pementasan teater Gadis Pingitan di Gedung Auditorium Universitas Muria Kudus, Sabtu (9/5/2026). Pementasan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 ini mengangkat budaya perjodohan yang pernah terjadi di lingkungan Kudus Kulon pada masa lampau.


Menariknya, proyek teater dan film dokumenter ini berawal dari ide gagasan Bupati Kudus sebagai upaya mengangkat sejarah dan budaya lokal kepada generasi muda.


Pemerintah Kabupaten Kudus mendukung penuh kreativitas anak-anak muda yang peduli terhadap sejarah dan budaya daerah.


“Atas nama Pemkab Kudus kami sangat mendukung pementasan ini. Ini menunjukkan bahwa masih banyak anak muda di Kudus yang kreatif dan peduli pada budayanya sendiri,” ujar Sam’ani.


Bupati berpesan, melalui garapan teater dan film dokumenter tersebut, literasi sejarah dan nilai-nilai kearifan lokal semakin dikenal oleh generasi muda.


“Banyak nilai yang bisa diambil, termasuk bagaimana menghargai marwah perempuan agar tetap relevan bagi generasi mendatang,” imbuhnya.


Sementara itu, Koordinator MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Kudus, Ahmad Sofya Edi, menjelaskan bahwa proyek tersebut digarap bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Kudus sebagai wadah refleksi bersama.


“Tujuannya untuk mengurai makna sebenarnya dari tradisi pingitan yang selama ini sering dipandang hanya sebagai pembatas kebebasan. Melalui cerita Rania, remaja asal Kudus Kulon, film ini mengajak penonton melihat tradisi tersebut dari sudut pandang pendidikan dan budaya,” jelasnya.


Sofya Edi menambahkan, guru tidak hanya berperan mengajar di kelas, tetapi juga mampu menjadi penggerak budaya dan melahirkan karya inspiratif.


“Gadis Pingitan ini merupakan karya kedua kami. Kami ingin terus menjaga nilai budaya, menghargai peran perempuan, sekaligus membangun karakter generasi muda melalui seni dan literasi,” ungkapnya.


Perwakilan Djarum Foundation, Asa Jatmiko, turut mengapresiasi lahirnya karya budaya tersebut yang dinilai relevan dengan perkembangan zaman.


“Gagasan ini semakin menarik karena berasal dari ide Bupati Sam’ani sendiri. Kegiatan ini mengajak kita belajar tentang nilai-nilai luhur yang tetap relevan dengan perkembangan zaman. Kearifan lokal sangat penting untuk diabadikan menjadi karya budaya,” ujarnya.