Watika Mandapa: Bupati Sam'ani Buka Taman Belakang Pendopo Kudus untuk Publik dan Edukasi Anak

Senin, Oktober 19, 2026


KUDUS – Kawasan sakral dan bersejarah Pendopo Kabupaten Kudus kini bertransformasi menjadi ruang publik yang semakin ramah dan terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat. Langkah progresif ini diwujudkan melalui proyek pembangunan taman belakang pendopo yang dirancang khusus sebagai destinasi eduwisata baru di Kota Kretek.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, melakukan peninjauan langsung untuk memastikan pengerjaan proyek strategis tersebut berjalan sesuai dengan target yang ditetapkan pada Senin (19/10/2026). Peninjauan ini dilakukan guna melihat dari dekat pengerjaan akhir kawasan taman sebelum nantinya dibuka secara resmi untuk publik.

Di sela-sela peninjauannya, Sam’ani mengungkapkan bahwa progres fisik pembangunan taman belakang Pendopo Kabupaten Kudus saat ini telah menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan. Berdasarkan evaluasi teknis di lapangan, pengerjaan fasilitas tersebut tercatat sudah mencapai 95 persen dari total perencanaan.

Kehadiran taman belakang pendopo ini menjadi bukti nyata dari komitmen kuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus di bawah kepemimpinannya. Pemkab Kudus bertekad mengikis kesan eksklusif kawasan pusat pemerintahan dengan menghadirkan ruang terbuka hijau yang bisa diakses langsung oleh warga.

Sam’ani menegaskan bahwa bangunan dan kawasan pendopo pada hakikatnya merupakan milik seluruh masyarakat Kudus yang patut dinikmati bersama. Oleh karena itu, integrasi fungsi pemerintahan dan fasilitas publik menjadi fokus utama dalam penataan kawasan tersebut.

"Semoga dengan selesainya pembangunan Taman Belakang Pendopo ini bisa dimanfaatkan masyarakat. Saya sudah berkomitmen kawasan pendopo ini untuk rakyat," ujar Sam’ani dengan optimistis di lokasi peninjauan.

Kabar gembiranya, masyarakat kelak dapat mengakses dan menikmati seluruh keindahan fasilitas di area taman belakang pendopo ini secara cuma-cuma alias gratis. Pemkab Kudus memastikan tidak ada pungutan biaya masuk agar seluruh elemen masyarakat dapat merasakan kebahagiaan yang sama.

Kendati demikian, demi menjaga ketertiban, keamanan, serta kenyamanan para pengunjung maupun kelancaran agenda kedinasan, Pemkab Kudus akan menyusun skema regulasi kunjungan. Pengaturan jam dan hari operasional akan diterapkan secara terencana dan profesional.

Pemkab Kudus saat ini sedang melakukan kajian mendalam untuk merumuskan jadwal operasional yang paling ideal bagi masyarakat umum. Penyesuaian waktu ini krusial agar fungsi pelayanan publik di pendopo tetap berjalan optimal berdampingan dengan kegiatan wisata warga.

"Kami masih kaji untuk masyarakat umum nanti dibuka di hari apa, agar masyarakat bisa merasakan langsung aura keindahan dan kenyamanan taman belakang Pendopo Kudus ini," tutur Bupati Sam'ani menjelaskan.

Selain ditujukan sebagai tempat bersantai dan rekreasi keluarga, taman ini digadang-gadang menjadi sarana eduwisata yang sangat efektif bagi para pelajar. Konsep eduwisata memadukan keasrian alam, sarana rekreasi, dan muatan pembelajaran interaktif di luar kelas.

Fasilitas di area taman dirancang terpadu dengan menghadirkan arena bermain anak yang aman serta zona konservasi satwa mini. Kombinasi ini diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan tidak membosankan bagi anak-anak.

Sam’ani memaparkan bahwa keberadaan taman ini dapat menjadi pilihan utama tujuan kegiatan karya wisata (field trip) bagi sekolah-sekolah di wilayah Kudus dan sekitarnya. Fasilitas yang tersedia dipastikan mampu menunjang kebutuhan motorik dan pengetahuan anak usia dini hingga remaja.


"Taman belakang pendopo ini nanti bisa dikunjungi untuk anak-anak TK, PAUD, SD, hingga SMP sebagai bentuk edukasi dan sarana bermain. Di sini kami lengkapi dengan fasilitas taman bermain anak, serta menghadirkan satwa seperti rusa, burung merak, burung dara, dan koleksi lainnya," jelasnya.

Menariknya, kawasan taman belakang pendopo ini secara resmi diberi nama Watika Mandapa. Nama yang sarat makna ini diambil dari perpaduan bahasa Sanskerta yang memiliki filosofi mendalam.

Secara harfiah, "Watika Mandapa" dapat diartikan sebagai sebuah bangunan atau area terbuka yang berdiri anggun di tengah kawasan perkebunan atau taman asri. Pemilihan nama ini memperkuat karakter kawasan pendopo yang hijau dan menyejukkan.

Penggunaan penamaan berbahasa Sanskerta ini disengaja sebagai bagian dari edukasi literasi budaya dan sejarah bagi generasi muda. Pemkab Kudus ingin mengenalkan kembali akar sejarah bahasa yang membentuk banyak kosakata dalam bahasa Indonesia modern.

"Kami gunakan bahasa Sanskerta untuk memberikan pola pikir kepada anak-anak bahwa elemen bahasa Sanskerta sebenarnya masih melekat erat dalam kehidupan sehari-hari kita," pungkas Sam’ani menutup peninjauannya.