Menjawab Tantangan Pemanasan Global, Terobosan Selubung Bangunan Ramah Lingkungan Tim SMP 3 Kudus Harumkan Nama Daerah

Selasa, Oktober 27, 2026

 


KUDUS — Isu pemanasan global dan lonjakan suhu lingkungan di daerah tropis terus memicu ketergantungan masyarakat pada penggunaan pendingin ruangan (*Air Conditioner*/AC) yang terbukti boros konsumsi energi listrik. Menjawab tantangan krisis iklim tersebut, tim peneliti muda dari SMP 3 Kudus melahirkan terobosan teknologi selubung bangunan terpadu ramah lingkungan bernama SEJUK, yang sukses memboyong medali emas pada ajang sains bergengsi tingkat nasional.

Prestasi membanggakan tersebut diraih dalam ajang *National Agriculture, Strategic Innovation & Cooperative Science Competition* (NASICS) 2026. Keberhasilan tim sekolah menengah pertama ini menjadi bukti konkret bahwa generasi muda di tingkat daerah mampu menghadirkan solusi ilmiah berbasis kearifan material lokal untuk menjawab persoalan lingkungan global.

Kepala SMP 3 Kudus, Sunaryo, melalui guru pendamping tim riset Cucun Sulistyo serta salah satu murid peraih medali emas, Daffa Ahza Pradana, memberikan konfirmasi resmi mengenai detail inovasi dan perjalanan panjang riset tersebut saat dihubungi melalui pesan singkat pada Selasa (27/10/2026).

Cucun Sulistyo menjelaskan bahwa ide dasar inovasi ini berawal dari keprihatinan bersama di lingkungan sekolah terhadap dampak perubahan iklim global yang kian terasa ekstrem. Peningkatan suhu udara Harian membuat bangunan hunian di wilayah tropis menyerap panas secara berlebih, sehingga penggunaan AC membengkak dan memicu emisi karbon yang lebih tinggi.

Melalui diskusi intensif di kelompok riset SMP 3 Kudus, tim merancang sebuah inovasi sistem selubung bangunan (*building envelope*) terpadu yang memanfaatkan limbah material lokal. Inovasi yang diberi nama SEJUK ini menggabungkan berbagai formula bahan terbuang yang diolah secara presisi untuk menahan radiasi dan paparan panas surya.

Dalam struktur aplikasinya, tim menggunakan formulasi tanah liat yang dipadukan dengan *biochar* tempurung kelapa untuk memberikan efek insulasi termal pada dinding maupun atap. Sementara itu, guna menciptakan lapisan pemantul panas (*coating*), mereka mengolah limbah cangkang telur dan abu sekam padi yang direkatkan menggunakan resin damar alami.

Tidak berhenti di situ, untuk memastikan ketahanan dan daya rekat material terhadap cuaca luar, tim memanfaatkan minyak biji jarak sebagai bahan *sealant* alami. Kombinasi unik antar-material lokal terbuang ini terbukti secara ilmiah mampu meredam radiasi panas secara efisien dan ramah lingkungan.

Guna mengoptimalkan performa insulasi material tersebut, riset ini disempurnakan dengan pengintegrasian sistem ventilasi aktif berbasis *Internet of Things* (IoT). Keunggulan utama dari sistem terpadu SEJUK ini terletak pada kemampuannya menurunkan suhu dalam ruangan secara signifikan sekaligus menekan jejak emisi karbon dari konsumsi listrik.

Meski meraih hasil manis di babak final, proses penemuan formulasi SEJUK diakui tidak berjalan secara instan. Cucun Sulistyo mengungkapkan bahwa tantangan terbesar selama proses pengujian laboratorium (*Research and Development*/R&D) terletak pada rekayasa material dan optimasi komposisi bahan alami.

Tim riset harus berulang kali menguji variasi persentase *biochar* dan ketebalan lapisan pelindung agar mendapatkan formulasi ideal. Formula tersebut dituntut tidak hanya unggul dalam menahan panas, tetapi juga wajib memenuhi standar kekokohan mekanis sesuai Standar Nasional Indonesia, salah satunya SNI 15-2094-2000 untuk material bata.

Selama uji coba berlangsung, kegagalan teknis kerap menghampiri eksperimen mereka. Daffa Ahza Pradana menceritakan bahwa timnya sempat mengalami frustrasi saat sampel genteng riset retak dan mengalami kegagalan struktur fisik, ditambah lagi kendala eror pada pengodingan sistem ventilasi IoT.

Namun, semangat pantang menyerah membuat tim terus melakukan eksperimen berulang kali (*trial and error*). Mereka membenahi formulasi adonan material fisik serta secara konsisten memperbaiki logika pemograman *script* IoT hingga sistem berjalan stabil tanpa gangguan teknis.

Selain kendala laboratorium, manajemen waktu menjadi tantangan tersendiri bagi para siswa. Pembimbing harus ekstra teliti membagi porsi waktu antara jam belajar formal kurikulum sekolah dengan konsistensi menjalankan 5 fase R&D riset yang menguras energi dan pikiran.


Dalam proses pendampingan, Cucun Sulistyo menerapkan pendekatan *Engineering Design Process* (EDP) yang dipadukan dengan bimbingan berbasis pemecahan masalah (*problem-solving*). Siswa dibiasakan untuk memahami fundamental mekanisme perpindahan panas dan fungsi teknis tiap material, bukan sekadar menghafal data uji.

Strategi pembelajaran ini dikombinasikan dengan simulasi presentasi dan sesi tanya jawab intensif secara berkala. Pendekatan tersebut berhasil melatih kepercayaan diri serta kelancaran publik para siswa sehingga mampu menjelaskan performa termal dan sistem IoT di depan dewan juri nasional secara lugas dan terukur.

Daffa Ahza Pradana mengaku sangat terharu dan bersyukur saat dewan juri NASICS 2026 mengumumkan nama SMP 3 Kudus sebagai peraih medali emas. Bagi Daffa dan kawan-kawan, kemenangan ini menjadi kebanggaan luar biasa karena berhasil membawa nama harum sekolah dan daerah di kancah nasional.

Keberhasilan riset ini juga tidak lepas dari komitmen penuh manajemen sekolah. SMP 3 Kudus memberikan dukungan penuh mulai dari penyediaan sarana laboratorium awal, kemudahan akses fasilitas pengujian material, hingga penyiapan akomodasi dan dukungan moril selama tim berlaga di kompetisi.

Pihak sekolah dan tim peneliti berharap karya inovasi SEJUK ini tidak berhenti hanya sebagai pajangan trofi kompetisi semata. Sebelum melangkah ke tahap komersialisasi atau pengajuan paten, tim berencana melakukan analisis biaya-manfaat (*cost-benefit analysis*) serta *Life Cycle Assessment* (LCA) agar teknologi selubung bangunan murah ini kelak dapat diterapkan secara massal pada hunian masyarakat tropis.