KUDUS, kudusterkini.com — Semangat seni teater di tingkat sekolah menengah terus bergelora melalui ajang Festival Teater Pelajar Indonesia (FTPI). Banyak sekolah yang antusias mendaftarkan tim terbaiknya untuk berlaga di panggung bergengsi ini.
Guru Kesiswaan SMPN 2 Kudus, Noor Kholis, menjelaskan bahwa kompetisi tahun ini diikuti oleh 21 sekolah tingkat SMP. Persaingan ketat sudah terasa sejak babak penyisihan dimulai.
Proses seleksi babak penyisihan berlangsung intensif mulai tanggal 9 hingga 17 Oktober. Dalam rentang waktu tersebut, para peserta beradu bakat untuk menampilkan pertunjukan teater terbaiknya.
Setelah penyisihan usai, pengumuman hasil seleksi dijadwalkan pada 19 November mendatang. Hanya 10 tim terbaik yang akan dipilih untuk melangkah ke babak final.
Uniknya, 10 kuota finalis tersebut menggabungkan jenjang SMP dan SMA dalam satu panggung kompetisi. Pihak sekolah pun menantikan hasil pengumuman dengan penuh harapan.
Dalam ajang FTPI kali ini, tim teater SMPN 2 Kudus mengusung pementasan berjudul "Dinding-Dinding Mawar Hitam". Lakon ini mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Cerita yang dibawakan mengisahkan tentang dinamika dan konflik dalam suatu keluarga. Pesan utamanya menyoroti dampak buruk dari setiap anggota keluarga yang saling mementingkan ego masing-masing.
Untuk menyajikan pertunjukan yang utuh, pementasan ini melibatkan total 43 siswa. Dari jumlah tersebut, 7 siswa berperan sebagai aktor utama di atas panggung.
Sementara itu, puluhan siswa lainnya memegang peranan penting di balik layar, mulai dari tim musik, pencahayaan (*lighting*), hingga tata rias. Seluruh teknis pementasan murni dikerjakan oleh para siswa sendiri.
Aturan kompetisi menuntut kemandirian penuh, di mana para guru pendamping tidak diperbolehkan campur tangan saat pementasan berlangsung. Mulai dari persiapan properti hingga pengaturan panggung menjadi tanggung jawab penuh para siswa.
Tantangan terbesar yang dirasakan para pemain adalah dalam segi penghayatan peran. Menguras emosi seperti adegan menangis hingga memerankan karakter yang jauh dari usia mereka menjadi ujian tersendiri.
Untuk mendapatkan komposisi pemain terbaik, pihak sekolah juga sempat melakukan proses seleksi dan bongkar pasang (*rolling*) peran. Langkah ini dilakukan agar setiap karakter dapat diperankan secara maksimal.
Penilaian babak penyisihan dilakukan langsung oleh tim juri yang turun menyambangi sekolah-sekolah. Tiga juri profesional yang hadir yaitu Ahmad Sofyan Hadi, Cornel Inos, dan Idamu Adicandra.
Persiapan pementasan ini memakan waktu latihan intensif selama satu bulan penuh. Pihak sekolah mengoptimalkan kegiatan ekstrakurikuler teater saban hari Sabtu untuk menjaring dan mengasah bakat para siswa.
Keberhasilan latihan tak lepas dari dukungan penuh para orang tua murid. Dukungan moral maupun materiil dari orang tua menjadi fondasi penting bagi kelancaran persiapan anak-anak.
Di tempat terpisah, Aufar Radhitya Naraya, salah satu siswa kelas 9I yang menjadi aktor dalam pementasan ini, membagikan pengalamannya. Ini merupakan tahun keduanya berpartisipasi dalam tim teater sekolah.
Aufar mengaku harus menerapkan disiplin tinggi untuk membagi waktu antara latihan padat dan tugas sekolah. Selain mengikuti bimbel, ia juga rutin mengisi jurnal "7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat" (7 KAIH) serta menjaga kondisi fisik.
Melalui peran suami yang ia mainkan, Aufar memetik pelajaran berharga tentang pentingnya menekan ego dan saling memahami. Ia berharap tim teater SMPN 2 Kudus dapat lolos ke babak final dan mengulang prestasi juara seperti tahun-tahun sebelumnya.