KUDUS, kudusterkini.com – Upaya mewujudkan masyarakat yang sehat dan bebas dari berbagai masalah kesehatan akibat lingkungan yang buruk membutuhkan komitmen kuat dari seluruh elemen masyarakat. Salah satu pendekatan utama yang kini menjadi perhatian mendalam di daerah adalah pemberdayaan perempuan dalam membangun kesadaran lingkungan, khususnya terkait akses air minum aman dan sanitasi yang layak.
Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Kudus, Endhah Sam’ani Intakoris, secara tegas mengajak seluruh calon Bunda Sanitasi untuk mengambil peran aktif sebagai motor penggerak perubahan di wilayah masing-masing. Ajakan tersebut disampaikannya demi memperkuat pendampingan kader dan memperluas edukasi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di level rumah tangga.
Langkah strategis ini disampaikan secara langsung dalam agenda pembukaan Loka Latih Calon Bunda Sanitasi Kabupaten Kudus yang bertempat di Wisma Djarum, Ploso, Kudus. Kegiatan loka latih ini diinisiasi melalui sinergi intensif antara TP PKK Kabupaten Kudus, Bakti Sosial Djarum Foundation, serta jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait di lingkungan Pemkab Kudus.
Pelatihan interaktif ini bertujuan utama untuk menggembleng serta meningkatkan pengetahuan, kapasitas, dan keterampilan teknis para calon Bunda Sanitasi. Dengan pembekalan yang matang, para peserta diharapkan siap turun langsung ke lapangan untuk memberikan sosialisasi serta mendampingi warga dalam menerapkan standar hidup bersih.
Dalam pilar pembekalannya, Endhah menekankan bahwa pemenuhan sanitasi aman bagi masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan penyediaan infrastruktur fisik semata. Kehadiran sarana dan prasarana yang memadai harus diimbangi dengan tumbuhnya kesadaran mandiri di tingkat keluarga secara berkelanjutan dan konsisten.
Setiap keluarga diimbau untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan hunian, memprioritaskan penggunaan jamban sehat, serta mengelola limbah rumah tangga dan sampah secara bijak. Tanpa adanya kesadaran dari dalam rumah, berbagai fasilitas sanitasi yang dibangun pemerintah maupun swasta tidak akan memberikan dampak optimal bagi kesehatan publik.
Sebagai organisasi yang mengakar hingga ke level dasawisma, TP PKK dinilai memegang posisi vital dan strategis dalam membentuk budaya bersih masyarakat. Keluarga merupakan pilar pertama dan paling utama di mana kebiasaan hidup sehat ditanamkan sejak dini kepada anak-anak dan seluruh anggota keluarga.
Melalui program penyiapan Bunda Sanitasi ini, TP PKK Kabupaten Kudus berkomitmen menguatkan kapasitas perempuan agar mampu tampil sebagai figur teladan. Perempuan tidak hanya menjaga keberlangsungan sanitasi di dalam rumah tangganya sendiri, tetapi juga mampu merangkul dan menggerakkan warga di lingkungan sekitarnya.
Guna mengoptimalkan peran pendampingan di lapangan, Endhah memperkenalkan sebuah konsep kearifan lokal bertajuk "Satu Rangkulan, Lima Peran (5N)". Konsep inovatif ini dirancang khusus sebagai panduan emosional dan praktis bagi Bunda Sanitasi saat membina para kader di tingkat bawah.
Pendekatan 5N tersebut mencakup lima dimensi penting, diawali dengan peran ngemong, yaitu kemampuan untuk mendengarkan dengan empati serta menjadi teman cerita yang nyaman bagi para kader. Peran kedua adalah ngayomi, di mana Bunda Sanitasi memberikan dukungan penuh, pengayoman, dan pendampingan di tengah tantangan tugas kader.
Peran ketiga adalah ngandani, yakni senantiasa mengingatkan tugas, tanggung jawab, serta misi sosial kader secara santun dan persuasif. Selanjutnya adalah ngguyubi, yang mewajibkan Bunda Sanitasi untuk selalu hadir secara fisik maupun emosional dalam membersamai setiap kegiatan kader di tengah masyarakat.
Adapun peran kelima yang tidak kalah krusial adalah nguwongke, yaitu bentuk penghargaaan setinggi-tingginya kepada para kader serta melibatkan mereka sebagai subjek utama perubahan sosial. Menurut Endhah, dengan pendekatan humanis ini, kader akan merasa dihargai, didukung penuh, dan tergerak untuk memberikan dedikasi terbaiknya.
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh para peserta selama loka latih diharapkan tidak berhenti pada tataran teori, melainkan langsung diimplementasikan secara nyata. Edukasi terkait konsumsi air minum aman, pemanfaatan jamban sehat, dan manajemen sampah harus dimulai dari rumah tangga lalu ditularkan ke skala lingkungan yang lebih luas.
Menanggapi gerakan ini, pihak swasta merespons positif peran krusial para kader sanitasi sebagai garda terdepan di masyarakat. General Manager Community Development PT Djarum, Achmad Budiharto, menegaskan bahwa para kader memegang posisi kunci karena merupakan pihak yang paling dekat dan berinteraksi langsung dengan warga.
Budiharto menambahkan bahwa kader berperan multifungsi sebagai motivator, promotor, edukator, sekaligus agen perubahan (agent of change). Kedekatan emosional kader dengan warga mempermudah penyampaian pesan-pesan kesehatan serta mempercepat pembentukan kesadaran kolektif untuk ber-PHBS.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dr. Abdul Hakam, mengingatkan bahwa sanitasi yang buruk dan air minum yang terkontaminasi menyimpan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Selain meningkatkan risiko penyakit menular seperti diare, kondisi lingkungan yang tak sehat berpengaruh langsung terhadap penyerapan gizi serta potensi timbulnya kasus stunting pada anak.
Oleh karena itu, penyiapan Bunda Sanitasi dan penguatan edukasi kualitas air serta PHBS di Kabupaten Kudus menjadi langkah preventif yang sangat mendesak. Sinergi antara pemerintah, kader, tenaga kesehatan, dan sektor swasta diharapkan mampu menjadikan budaya sanitasi bersih sebagai kebiasaan hidup sehari-hari demi mencetak generasi masa depan yang sehat dan berkualitas.