Lestarikan Budaya dan Geliatkan UMKM, Pemdes Rendeng Gelar Pertunjukan Kethoprak "Damarwulan Winisuda"

Sabtu, Oktober 31, 2026


KUDUS – Pemerintah Desa Rendeng bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus sukses memanjakan warganya lewat panggung hiburan rakyat bertajuk seni pertunjukan tradisional. Alun-alun dan Lapangan Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus mendadak riuh dan dipadati warga dalam gelaran seni budaya yang berlangsung meriah.

Agenda pementasan seni tradisional ini diselenggarakan selama dua hari berturut-turut, yakni pada Jumat hingga Sabtu, 30–31 Oktober 2026. Kehadiran panggung megah di tengah lapangan desa tersebut berhasil menyedot perhatian ribuan warga lokal hingga para pencinta seni dari berbagai penjuru wilayah Kabupaten Kudus.

Kepala Desa Rendeng, Muhamad Yusuf, mengonfirmasi secara langsung mengenai seluk-beluk serta tujuan besar di balik terselenggaranya acara kebudayaan tersebut. Saat dikonfirmasi melalui pesan singkat Whatsapp pada Sabtu (31/10/2026) sore sekitar pukul 15.00 WIB, ia membagikan cerita serta harapannya atas kesuksesan acara ini.

Yusuf menjelaskan bahwa Pemerintah Desa Rendeng secara khusus memboyong kelompok seni kethoprak ternama, yakni Panji Anom, untuk menghibur seluruh lapisan masyarakat. Kelompok seni tradisional ini dikenal luas memiliki rekam jejak pementasan yang ciamik dengan lakon-lakon Jawa yang syarat akan nilai kehidupan.

Dalam pementasan spesial di Lapangan Rendeng kali ini, grup Kethoprak Panji Anom membawakan cerita klasik bernuansa sejarah bertajuk Damarwulan Winisuda. Pilihan lakon tersebut terbukti ampuh menyihir para penonton yang larut dalam alur cerita epik dan atraktif sepanjang pertunjukan berlangsung.

Lebih lanjut, Yusuf mengungkapkan bahwa pembiayaan penuh pementasan seni budaya ini bersumber dari anggaran resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus. Sinergi antara pemerintah daerah dan pemerintah desa ini menjadi bukti nyata komitmen bersama dalam merawat warisan leluhur.

Menurut Yusuf, gelaran ini tidak sekadar menjadi hiburan malam biasa, tetapi memikul misi kebudayaan yang jauh lebih besar. Pemerintah Desa Rendeng berkomitmen penuh untuk ikut serta menjaga serta melestarikan keberadaan kesenian tradisional Jawa agar tidak tergerus oleh arus modernisasi.

Pesan utama yang ingin disampaikan melalui pementasan kethoprak di Desa Rendeng ini adalah mengajak generasi muda dan seluruh elemen masyarakat untuk terus mencintai dan melestarikan seni pementasan kethoprak. Seni pertunjukan ini dinilai memiliki estetika dan filosofi luhur yang sangat bernilai tinggi.

Selain misi pelestarian budaya, pihak pemerintah desa juga memiliki niat tulus untuk menghadirkan sarana hiburan yang berkualitas dan merakyat. Pertunjukan ini diharapkan dapat menjadi penawar dahaga hiburan bagi seluruh warga Desa Rendeng serta masyarakat di desa-desa sekitarnya.

Keputusan untuk memilih kesenian kethoprak sebagai sajian utama pun bukan tanpa alasan yang matang. Yusuf membeberkan bahwa sudah sekian lama warga Desa Rendeng tidak menyaksikan langsung secara dekat pagelaran seni kethoprak di tanah kelahiran mereka sendiri.

Rasa rindu warga akan riuhnya tabuhan gamelan dan dialog kethoprak yang khas menjadi pertimbangan utama Pemdes Rendeng dalam menghadirkan panggung ini. Momen ini sekaligus menjadi wadah nostalgia bagi para orang tua serta sarana edukasi budaya bagi anak-anak usia dini.

Terkait pemilihan lakon cerita Damarwulan Winisuda, Yusuf menuturkan bahwa judul tersebut mengandung pesan moral yang sangat mendalam. Cerita perjuangan dan kepemimpinan Damarwulan diharapkan dapat menjadi teladan dan inspirasi positif bagi kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

”Alasan pemilihan judul Damarwulan Winisuda adalah agar warga masyarakat bisa meneladani hal-hal baik dari tokoh-tokoh yang diperagakan dalam pertunjukan ini, terutama nilai kejujuran, keberanian, dan pengabdian,” papar Yusuf menjelaskan makna tersirat lakon tersebut.


Tak hanya menyajikan seni lakon kethoprak yang memukau, ajang panggung budaya ini juga makin semarak dengan hadirnya pertunjukan tarian daerah. Panitia menyuguhkan Tari Kretek, tarian khas Kabupaten Kudus yang menggambarkan dinamika dan kearifan lokal masyarakat pembuat rokok kretek.

Penampilan Tari Kretek yang dibawakan secara anggun dan energik berhasil membuka decak kagum para pengunjung sebelum acara inti kethoprak dimulai. Kolaborasi antara seni tari daerah dan pementasan kethoprak membuat suasana malam puncak semakin berkesan dan berwarna.

Meskipun wilayah Desa Rendeng dan sekitarnya sempat diguyur hujan cukup deras sejak siang hingga sore hari, hal tersebut sama sekali tidak memadamkan semangat warga. Antusiasme masyarakat Desa Rendeng dan para penggemar fanatik kethoprak tetap meluap untuk memadati area Lapangan Rendeng.

Meluapnya kehadiran penonton dari berbagai wilayah ini membawa angin segar bagi perekonomian lokal di sekitar lokasi acara. Para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), baik Pedagang Kaki Lima (PKL) asli Desa Rendeng maupun pedagang tiban, memanen rezeki berlimpah.

Prosesi mremo atau berjualan di tengah keramaian acara menjadi ladang berkah tersendiri bagi para pedagang makanan, minuman, hingga mainan anak. Pemerintah Desa Rendeng pun bersyukur karena ajang pelestarian budaya ini terbukti sukses memberikan dampak ekonomi secara langsung dan nyata bagi perputaran uang masyarakat kecil.