Tragedi Berdarah di Jati Kulon Kudus: Anak Kandung Tewas Usai Ditusuk Orang Tua Sendiri

Jumat, September 25, 2026


KUDUS, Kudusterkini.com— Suasana malam di Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, mendadak gempar pada Kamis (24/9/2026) malam. Warga setempat dikagetkan dengan sebuah insiden kekerasan berdarah yang melibatkan hubungan darah di dalam satu keluarga.

Upaya warga yang bergegas memberikan pertolongan darurat kepada seorang pria berinisial FA (34) pada akhirnya harus berakhir dengan rasa duka mendalam. Korban yang mengalami luka parah akibat tusukan dilaporkan meninggal dunia setelah sempat dilarikan ke rumah sakit.

Peristiwa berdarah tersebut diperkirakan terjadi sekitar pukul 23.00 WIB malam. Lokasi kejadian berada di lingkungan RT 02/RW 05, Desa Jati Kulon, yang seketika dipadati oleh warga sekitar yang penasaran sekaligus cemas.

Jajaran kepolisian dari Polsek Jati yang menerima laporan langsung bergerak cepat mendatangi tempat kejadian perkara untuk melakukan olah TKP. Dari lokasi kejadian, petugas mengamankan sebilah pisau yang diduga kuat digunakan dalam aksi penusukan tersebut.

Kapolsek Jati AKP Subkhan saat dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa kekerasan yang merenggut nyawa korban berinisial FA tersebut. Dalam penanganan perkara ini, pihak kepolisian langsung mengamankan dan memeriksa terduga pelaku berinisial T (70) yang merupakan orang tua kandung korban.

“Pada intinya saya selaku Kapolsek Jati membenarkan adanya peristiwa tersebut tentang terjadinya kekerasan, yang kemudian korban meninggal dunia di rumah sakit,” ujar AKP Subkhan, Jumat (25/9/2026).

Hingga saat ini, T selaku terduga pelaku masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolsek Jati. Pihak kepolisian menyatakan belum dapat membeberkan secara detail kronologi lengkap maupun motif di balik peristiwa tersebut mengingat proses penyelidikan masih berjalan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis awal di tubuh korban, polisi menemukan adanya satu luka tusuk yang cukup serius. Luka inilah yang diduga menjadi pemicu utama kondisi kritis hingga merenggut nyawa korban sebelum mendapatkan penanganan maksimal di rumah sakit.

“Saya belum bisa memberikan keterangan karena masih dalam pemeriksaan,” tambah AKP Subkhan membatasi rincian kasus demi kelenturan penyidikan.

Sementara itu, Ketua RT setempat, Supardi, menceritakan bahwa dirinya mengetahui insiden tersebut setelah sejumlah pengurus RT mendatangi kediamannya. Ia yang tengah beristirahat langsung dibangunkan untuk kemudian bergegas menuju lokasi kejadian demi melihat situasi riil di lapangan.

“Saya belum tahu persis kejadiannya. Saya tahunya sudah di jalan. Waktu itu pengurus RT datang ke rumah saya dan membangunkan saya. Kemudian saya datang ke tempat kejadian,” ungkap Supardi.

Setibanya di lokasi, Supardi mendapati korban sudah dalam kondisi membutuhkan pertolongan medis darurat. Bersama seorang warga lainnya bernama Imi, ia tanpa pikir panjang langsung mengevakuasi dan membawa FA menuju rumah sakit.

“Saya sudah sampai di jalan situ, saya angkut ke rumah sakit sama Pak Imi,” kenang Supardi menceritakan detik-detik penyelamatan korban.

Supardi juga mendengar informasi bahwa sebelum penusukan terjadi, sempat terdengar suara keributan dan pertengkaran sengit di dalam rumah. Cekcok tersebut rupanya berlanjut hingga korban dan terduga pelaku berlari keluar menuju jalan perkampungan di sekitar rumah.

“Kejadiannya sekitar jam 11 malam. Awalnya pertengkaran terjadi di rumah itu. Kemudian keduanya lari ke arah rumah tetangga, ke jalan,” jelasnya menambahkan.

Di sisi lain, Jamilah (46) selaku kakak kandung korban sekaligus anak dari T, mengaku tidak menyaksikan langsung detik-detik kejadian nahas tersebut. Pasalnya, ia sudah lama tinggal terpisah bersama keluarganya sendiri di wilayah Desa Jepang Wetan.

Meski tinggal terpisah, Jamilah memberikan keterangan mengenai kebiasaan adiknya yang kerap pulang ke rumah dalam pengaruh minuman keras. Menurutnya, kondisi tersebut kerap memicu ketegangan dan persoalan di dalam lingkup keluarga.


“Mungkin karena setiap pulang itu memang mabuk. Terus kalau mukul, orang tua yang jadi sasarannya. Saya sendiri kurang tahu permasalahannya apa dengan orang tua,” tutur Jamilah memberikan kesaksian.

Bahkan, Jamilah mengaku dirinya sendiri pernah menjadi korban tindakan kekerasan dari adiknya ketika berniat memberikan nasihat yang baik. Ia memilih untuk tinggal mandiri demi menghindari gesekan setelah berkeluarga.

Untuk mengungkap secara terang benderang penyebab kematian korban, pihak kepolisian berencana melakukan proses autopsi pada jenazah FA. Pemeriksaan forensik ini penting guna memastikan korelasi pasti antara luka tusuk yang dialami korban dengan kematiannya.

“Untuk selanjutnya kami akan melaksanakan autopsi terhadap jenazah untuk memastikan penyebab kematian,” pungkas AKP Subkhan menutup keterangan.

Kasus kekerasan dalam keluarga ini kini ditangani secara serius oleh aparat penegak hukum. Polisi terus mendalami keterangan dari terduga pelaku T, memeriksa para saksi di sekitar tempat kejadian, serta menganalisis barang bukti yang telah diamankan.