TP PKK Kudus Luncurkan Program "Kencan Bumil" dan "Parijoto": Upaya Bersama Tekan AKI, AKB, dan Stunting

Rabu, September 16, 2026



Kudus, Kudusterkini.com - Pemerintah Kabupaten Kudus terus memperkuat komitmennya dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), dan angka stunting. Langkah konkret ini diwujudkan melalui penguatan kolaborasi strategis lintas sektor di tingkat desa hingga kabupaten.

Sebagai bentuk aksi nyata, Tim Penggerak PKK Kabupaten Kudus menggelar sosialisasi dan penguatan program di Balai Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, pada Senin (14/9/2026). Kegiatan ini menjadi momentum krusial untuk mengonsolidasikan seluruh lini pelayanan kesehatan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, TP PKK secara resmi mendorong efektivitas dua program unggulan pendampingan ibu hamil. Program tersebut adalah "Kencan Bumil" (Kenali dan Cek Kesehatan Ibu Hamil) serta program pendampingan khusus "Parijoto".

Ketua TP PKK Kabupaten Kudus, Endhah Sam’ani Intakoris, menegaskan bahwa upaya menekan risiko fatalitas pada kehamilan memerlukan keterlibatan aktif semua pihak. Menurutnya, pendampingan kesehatan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri tanpa komunikasi yang solid.

Endhah menekankan pentingnya membangun sinergi yang terstruktur dan berkelanjutan di lapangan. Koordinasi intensif harus dijalankan secara erat mulai dari tingkat dinas hingga para kader di pelosok desa.

"Jalan bareng, koordinasi bersama antara PKK, Dinas Kesehatan, puskesmas, bidan desa, dan para kader. Kita ingin ibu hamil mendapatkan pendampingan dengan baik," ujar Endhah saat memberikan arahan di hadapan para peserta.

Melalui sinergi ini, TP PKK berharap seluruh faktor risiko kehamilan dapat terdeteksi sejak fase awal. Langkah preventif tersebut dinilai mampu mencegah terjadinya potensi komplikasi medis yang mengancam jiwa ibu dan bayi.

Program "Kencan Bumil" sendiri membawa skema inovatif berupa sistem pendampingan personal secara langsung. Dalam teknis pelaksanaannya, strategi yang diterapkan adalah satu kader ditugaskan untuk mendampingi satu ibu hamil (one on one).

Para kader kesehatan berperan aktif memantau kondisi perkembangan fisik dan psikologis ibu hamil secara rutin. Mereka bertugas memberikan edukasi nutrisi sekaligus mengingatkan jadwal pemeriksaan medis berkala di fasilitas kesehatan.

Kader lapangan juga memastikan setiap ibu hamil mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang layak dan memadai. Pendampingan personal ini diharapkan dapat menepis rasa cemas serta meningkatkan kesadaran ibu akan pentingnya kesehatan janin.

Sementara itu, untuk penanganan ibu hamil yang masuk dalam kategori risiko tinggi (risti), TP PKK menyiapkan skema khusus melalui program "Parijoto". Program ini dirancang dengan intervensi dan pemantauan medis yang jauh lebih intensif.

Pada skema "Parijoto", bidan desa diterjunkan langsung sebagai penanggung jawab utama pelayanan medis di wilayahnya. Bidan desa berkolaborasi rapat dengan kader untuk memantau rekam medis dan kondisi terkini sang ibu.

"Untuk ibu hamil risiko tinggi, pendampingannya lebih khusus. Kader bersama bidan desa harus mengetahui kondisi ibu dan melakukan pemantauan, sehingga apabila ada risiko bisa segera ditindaklanjuti," jelas Endhah mendalam.


Penanganan cepat dan tepat sasaran menjadi kunci utama dalam meminimalisasi bahaya pada kehamilan risti. Dengan adanya pengawalan ketat dari bidan desa, tindakan medis darurat dapat segera diambil jika sewaktu-waktu terjadi penurunan kondisi kesehatan.

Endhah optimistis penguatan kedua program ini mampu membangkitkan kepedulian kolektif seluruh elemen masyarakat Kudus. Pendampingan sejak dini dipastikan menjadi benteng pertahanan utama dalam mencetak generasi penerus yang sehat.

Ia menekankan bahwa tidak boleh ada satu pun ibu hamil di Kabupaten Kudus yang terlewat dari jangkauan pemantauan tim kesehatan. Cakupan pengawasan yang menyeluruh menjadi prioritas utama TP PKK saat ini.

Keberhasilan program ini diharapkan tidak hanya berhenti pada penurunan angka kematian ibu dan anak semata. Lebih jauh, pendampingan gizi yang baik selama kehamilan secara otomatis menjadi pilar pencegahan stunting sejak dalam kandungan.

"Yang paling penting adalah pendampingannya berjalan, koordinasinya kuat, dan tidak ada ibu hamil yang luput dari pemantauan. Dengan begitu, kita bersama-sama berupaya mencegah kematian ibu dan bayi serta mendukung pencegahan stunting," pungkas Endhah menutup penjelasannya.