KUDUS — Proyek pembangunan dan rehabilitasi sarana prasarana di SD 1 Margorejo, Kabupaten Kudus, mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial. Sorotan publik tertuju pada besaran anggaran pembangunan toilet sekolah yang dinilai sangat fantastis.
Menanggapi kabar yang beredar, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) Disdikpora Kabupaten Kudus, Agus Subandi, bersama Perencana Pembangunan, Dini, memberikan klarifikasi langsung saat ditemui wartawan di lokasi SD 1 Margorejo pada Jumat (4/9/2026).
Agus Subandi membenarkan bahwa proyek rehab dan pembangunan fisik di sekolah tersebut, khususnya fasilitas toilet, memang menyedot anggaran yang terbilang besar. Kendati demikian, ia menegaskan seluruh tahapan pekerjaan telah disusun berdasarkan regulasi dan acuan tingkat kerusakan.
"Memang anggarannya besar. Kami sebetulnya menentukan item pekerjaan itu berdasarkan tingkat kerusakan. Di mana tingkat kerusakan awal dicatat mencapai 95 persen, namun setelah efisiensi disesuaikan menjadi 65 persen," terang Agus di lokasi.
Ia menjelaskan bahwa mahalnya nilai proyek tersebut bukan ditentukan secara sepihak oleh pihak daerah, melainkan mengacu pada Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) yang ditetapkan oleh kementerian terkait.
"Kementerian memunculkan standar harga atau AHSP yang cukup tinggi. Kenapa tinggi? Kami tidak bisa menjawab karena itu kebijakan pusat. Tim sekolah, panitia, maupun perencana daerah hanya bertugas memasukkan tingkat kerusakan dan volume pekerjaan," lanjutnya.
Agus menambahkan, tingginya angka tersebut dipengaruhi oleh indeks harga satuan fisik yang melampaui harga pasaran umum regional. Jika harga normal di daerah sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta per meter persegi, standar kementerian berkisar antara Rp3,5 juta hingga Rp4 juta per meter persegi.
"Faktor harga satuan dari kementerian itu yang membuat nilainya tinggi. Ketika dikalikan dengan volume dan tingkat kerusakan, tentu berdamapak pada total anggaran keseluruhan," pungkas Agus.
Sementara itu, Perencana Pembangunan Disdikpora Kudus, Dini, menjelaskan rincian fisik pembangunan yang tengah dikerjakan di lokasi. Proyek tersebut mencakup dua unit toilet serta rehabilitasi ruang perpustakaan sekolah.
"Pekerjaan utama saat ini adalah pembangunan dua unit toilet—satu untuk putra dan satu untuk putri—serta perbaikan ruang perpustakaan. Untuk satu unit toilet terdiri dari empat plong, yaitu tiga kamar mandi dan satu fasilitas tempat wudhu," jelas Dini.
Dini juga membeberkan bahwa ada sebagian bangunan tua di area sekolah yang saat ini pengerjaannya terpaksa ditunda atau dipending. Penundaan dilakukan guna memastikan status cagar budaya bangunan tersebut.
"Untuk bangunan lama di sebelah, kita pending dulu sambil menunggu kepastian dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar). Jika dikategorikan sebagai cagar budaya, maka penanganannya harus khusus melalui metode konservasi," kata Dini.
Terkait progres dan teknis di lapangan, Dini memastikan pengerjaan proyek toilet dan perpustakaan terus berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan sejak pertengahan tahun.
"Proses perencanaan sudah dimulai sejak Juli lalu, sedangkan pengerjaan fisik di lapangan sudah berjalan sekitar dua minggu. Kami targetkan seluruh pengerjaan selesai pada akhir November mendatang," ungkapnya.
Guna menjamin mutu dan kualitas bangunan, Dini menegaskan penggunaan material spesifikasi tinggi sesuai standar yang dipersyaratkan.
"Kami memakai kloset dan wastafel merek Toto, pintu bahan UPVC, atap rangka kencana dengan penutup galvalum pasir, serta plafon gypsum Elite. Pembagian pekerja saat ini melibatkan sekitar 10 orang yang terdiri dari 4 tukang dan 6 pekerja," tambah Dini.
Mengenai porsi anggaran di luar fisik, Dini menyebutkan bahwa honorarium untuk jasa perencanaan dan pengawasan telah diatur dalam regulasi terpisah dan tidak mengurangi pagu anggaran fisik utama.
"Honor perencana ditetapkan sebesar 2 persen dari nilai fisik, sedangkan pengawasan sekitar 2,8 hingga 3 persen. Anggaran tersebut dialokasikan terpisah dari pagu pembangunan fisik," tutup Dini.