KUDUS — Pemerintah Kabupaten Kudus melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) resmi menggelar berbagai rangkaian acara meriah dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Kudus yang ke-477. Puncak perayaan ini dikonsep dengan menyajikan perpaduan seni budaya, hiburan rakyat, hingga kegiatan religi yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Kepala Disbudpar Kabupaten Kudus, Abdul Halil, menyampaikan keterangannya secara langsung saat ditemui awak media di kantornya pada Jumat, 25 September 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan detail agenda puji syukur serta hiburan yang disiapkan untuk menghibur warga Kudus selama akhir pekan.
"Ini merupakan salah satu rangkaian puncak perayaan Hari Jadi Kota Kudus yang ke-477. Seluruh agenda kita susun agar bisa dinikmati oleh masyarakat luas," ujar Abdul Halil saat memberikan keterangan di hadapan para wartawan.
Rangkaian acara puncak ini dijadwalkan berlangsung meriah selama akhir pekan, tepatnya pada hari Sabtu dan Minggu. Berbagai festival budaya dan pertunjukan musik telah disiapkan untuk mengisi panggung hiburan rakyat di beberapa titik lokasi.
Pada Sabtu pagi, agenda diawali dengan pencatatan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk penampilan Tari Lajur Caping Kalo secara kolosal. Tarian khas Kudus ini dipentaskan sebagai bentuk pelestarian serta pengenalan budaya lokal kepada generasi muda.
Memasuki Sabtu malam, suasana akan dipanaskan dengan panggung hiburan musik yang menghadirkan kontes band Charlie serta penampilan grup musik komedi Guyon Waton. Kehadiran para pengisi acara ternama ini diprediksi akan menyedot antusiasme ribuan penonton.
Tidak berhenti di situ, pada Minggu siang perayaan dilanjutkan dengan kumpul komunitas pecinta otomotif melalui ajang *Scooter Paddock/Gath*. Acara ini menjadi wadah silaturahmi bagi para penggemar vespa dan skuter dari berbagai daerah.
Selain menggelar pesta rakyat, Pemkab Kudus juga tetap mengedepankan nilai-nilai religius dan sejarah melalui kegiatan ziarah makam leluhur secara serentak. Ziarah ini terbagi ke dalam tiga lokasi utama, yakni Makam Sunan Kudus, Makam Sunan Muria, serta kompleks pemakaman tokoh sejarah lainnya.
Pembagian tugas ziarah dilakukan secara terstruktur bersama para pejabat daerah. Sekretaris Daerah (Sekda) bersama Asisten II dan pejabat eselon III melaksanakan ziarah ke Makam Sunan Kudus, sementara jajaran Disbudpar dijadwalkan berziarah ke Makam Sunan Muria.
Di luar kemeriahan acara puncak, Abdul Halil juga membeberkan rencana penting terkait pengajuan Peraturan Daerah (Perda) baru mengenai penetapan hari lahir Kota Kudus. Saat ini, draf Perda pergeseran tanggal tersebut sedang diproses oleh pemerintah daerah.
"Saat ini Perda terkait penetapan hari jadi baru kami ajukan ke bagian hukum untuk diteliti ulang. Setelah proses di bagian hukum selesai, Pemkab Kudus akan secepatnya menyampaikan draf tersebut ke DPRD," terang Halil mengenai perkembangan regulasi tersebut.
Perubahan Perda ini dilatarbelakangi oleh temuan serta kajian akademis terbaru yang mengindikasikan perlunya penyesuaian tanggal lahir Kota Kudus. Berdasarkan hasil rekonstruksi dan seminar yang digelar sebelumnya, terdapat pergeseran bulan peringatan dari September ke bulan Agustus, meski angkanya tetap sama.
"Dinamika temuan di lapangan terus berkembang. Para ahli dan akademisi membaca ulang data sejarah sehingga ada penyesuaian yang perlu dilakukan. Berdasarkan seminar rekonstruksi hari jadi tanggal 27 lalu, disepakati ada pergeseran dari bulan September ke bulan Agustus," tambahnya.
Mengenai efisiensi dan besaran anggaran penyelenggaraan Hari Jadi ke-477 ini, Halil menegaskan bahwa Pemkab Kudus tidak mengeluarkan dana yang spektakuler dari APBD. Pihaknya mengandalkan skema kolaborasi dan kemitraan secara maksimal.
Penyelenggaraan acara besar ini terwujud berkat gotong royong dan dukungan sponsor dari pihak ketiga, termasuk Bank Jateng serta berbagai potensi dunia usaha swasta yang ada di Kabupaten Kudus.
"Alhamdulillah, semua kegiatan bisa berjalan dengan baik dan lancar berkat kerja sama seluruh pihak. Kami merangkul semua potensi yang ada di Kudus tanpa harus membebani anggaran daerah secara berlebihan," pungkas Abdul Halil menutup perbincangan.