KUDUS, Kudusterkini.com – Mobilitas masyarakat di wilayah Dukuh Kedungmojo, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, kini semakin mudah dan efisien setelah Jembatan Merah Putih resmi dioperasionalkan. Infrastruktur fisik tersebut menjadi sarana penghubung vital yang baru antara Desa Tanjungrejo dan Desa Klaling, dua kawasan yang sebelumnya dipisahkan oleh akses perjalanan memutar yang cukup jauh.
Keberadaan jembatan anyar ini terbukti mampu memangkas waktu tempuh aktivitas warga secara signifikan. Jika sebelumnya masyarakat harus mengitari rute alternatif dengan durasi perjalanan sekitar 30 menit, kini jarak antar-wilayah tersebut dapat ditumpangi kendaraan dan ditempuh hanya dalam waktu kurang lebih lima menit saja.
Peresmian dan peninjauan langsung infrastruktur Jembatan Merah Putih ini dihadiri oleh Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Achiruddin Darojat, serta Dandim 0722/Kudus Letkol Arh Yuusufa Allan Andriasie pada Rabu (1/9/2026).
Operasional jembatan tersebut ditandai secara simbolis dengan penandatanganan prasasti oleh para pejabat terkait. Dalam agenda kunjungan kerja tersebut, rombongan juga menyempatkan diri meninjau pembangunan sumur bor yang disiapkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih serta sanitasi masyarakat di wilayah setempat.
Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Achiruddin Darojat menjelaskan bahwa pembangunan Jembatan Merah Putih merupakan bagian dari program strategis Jembatan Garuda Merah Putih. Program ini memang dirancang khusus untuk mengintervensi wilayah-wilayah pelosok yang mengalami keterbatasan aksesibilitas.
Ia menegaskan, penentuan titik pembangunan infrastruktur penghubung ini senantiasa didasarkan pada skala prioritas kebutuhan riil masyarakat serta besarnya dampak manfaat jangka panjang yang dirasakan oleh warga lokal.
“Jembatan ini menghubungkan akses dua desa dan sangat berguna bagi masyarakat,” ujar Mayjen TNI Achiruddin Darojat di sela-sela peninjauan.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa keberadaan fasilitas jembatan ini memberikan manfaat langsung bagi setidaknya hampir 2.000 jiwa warga di sekitarnya. Selain mempercepat pergerakan mobilitas sehari-hari, konstruksi jembatan kini dispesifikasikan agar mampu dilalui oleh kendaraan roda empat.
Kemudahan mobilitas roda empat tersebut dinilai memberikan dampak instan yang positif bagi sektor pertanian lokal. Para petani kini memiliki jalur logistik yang jauh lebih praktis dan hemat waktu untuk mengangkut hasil panen maupun mendistribusikan sarana produksi pertanian.
Achiruddin menerangkan bahwa setiap proyek pembangunan diawali dengan proses survei ketat pada lokasi yang diusulkan. Jumlah penerima manfaat serta tingkat kesulitan medan menjadi indikator utama dalam jajaran Kodam IV/Diponegoro untuk menentukan prioritas eksekusi.
“Mana daerah yang benar-benar membutuhkan, itu yang menjadi prioritas utama kami,” tegas Pangdam IV/Diponegoro.
Hingga saat ini, Kodam IV/Diponegoro bersama jajaran Kodim di wilayahnya telah sukses menyelesaikan sekitar 311 unit pembangunan jembatan. Program bakti TNI ini akan terus berlanjut dengan target pembangunan sedikitnya 100 jembatan baru di berbagai wilayah Jawa Tengah.
Ia juga membuka peluang bagi Kabupaten Kudus untuk kembali mendapatkan alokasi pembangunan jembatan tambahan. Syaratnya, wilayah yang diusulkan memiliki kebutuhan mendesak serta memberikan dampak sosial-ekonomi yang besar bagi masyarakat luas.
Selain memacu roda perekonomian desa, keberadaan Jembatan Merah Putih diharapkan dapat menjamin keamanan dan keselamatan perjalanan warga, khususnya bagi para pelajar. Sebab, di sejumlah daerah masih dijumpai anak-anak sekolah yang harus menyeberangi sungai berarus keras atau jalur berbahaya akibat ketiadaan jembatan penyeberangan yang layak.
“Jadi, pembangunan jembatan ini bukan hanya untuk akses kendaraan dan aktivitas ekonomi semata, tetapi juga untuk memastikan anak-anak kita dapat berangkat dan pulang sekolah dengan aman tanpa rasa was-was,” tuturnya.
Sementara itu, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas komitmen dan dukungan penuh institusi TNI dalam membangun infrastruktur dasar yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga. Menurutnya, kolaborasi harmonis antara Pemkab Kudus dan TNI berhasil mempercepat pemenuhan fasilitas publik dasar di wilayahnya.
Selain pembangunan jembatan, sinergi ini juga diwujudkan dalam program sumur bor, irigasi perpompaan, hingga jaringan pipanisasi pertanian. Sam’ani menyebut ada sekitar 10 hingga 11 titik pembangunan jembatan yang diusulkan mendapat dukungan TNI, di mana enam titik di antaranya telah selesai dikerjakan secara optimal.
“Pembangunan jembatan ini sangat penting. Mengingat asas kemanfaatannya yang begitu besar, kami tentu sangat berharap ke depan akan semakin banyak titik jembatan yang dapat dibangun di Kudus. Prinsipnya time is money—ketika waktu perjalanan dihemat, biaya transportasi juga dapat ditekan,” pungkas Sam’ani seraya mengingatkan pentingnya perawatan berkala dari pemerintah desa setempat.