KUDUS, Kudusterkini.com – Momentum peringatan Hari Jadi Kabupaten Kudus ke-477 menjadi ajang pembuktian kreativitas sekaligus pelestarian budaya lokal bagi SMP Negeri 1 Kudus. Mengusung tema besar "Urup Nguripi", sekolah ini sukses mencuri perhatian juri dan penonton melalui pertunjukan seni bertajuk tradisi "Khajatan".
Ketua Panitia Karnaval SMPN 1 Kudus, Dyah Puspitasari, membeberkan secara mendalam perjalanan kontingen sekolahnya dari awal persiapan hingga tampil memukau di panggung utama. Penjelasan tersebut disampaikan Dyah saat ditemui langsung di area sekolah pada Selasa (15/09/2026).
Dyah menjelaskan bahwa pilihan untuk mengangkat tradisi "Khajatan" bukan tanpa alasan. Tradisi masyarakat asli Kudus ini dinilai sarat akan nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, gotong royong, tradisi bersedekah, serta tingginya kepedulian sosial antarwarga.
Melalui seni pertunjukan yang disajikan, tradisi khajatan tidak sekadar dihadirkan sebagai ritual visual belaka. Lebih dari itu, tampilan tersebut menjadi simbol nyata dari semangat sengkuyung—sebuah konsep kebersamaan dan bahu-membahu dalam membantu sesama.
Selain semangat sengkuyung, nilai sedekah diposisikan sebagai pilar penting dalam pertunjukan ini. Hal tersebut ditampilkan sebagai wujud nyata dari sikap saling berbagi dan saling menghidupi antaranggota masyarakat.
Pesan-pesan moral yang dibawakan oleh siswa-siswi SMPN 1 Kudus ini selaras dengan filosofi "Urup Nguripi". Filosofi ini mengajarkan bahwa hakikat kehidupan bukan hanya tentang kepentingan diri sendiri, melainkan tentang saling menguatkan serta menjaga keharmonisan bersama.
Berkat kreativitas, semangat pantang menyerah, dan kekompakan seluruh warga sekolah, SMPN 1 Kudus akhirnya berhasil menyabet gelar Juara 2 dalam ajang Karnaval Budaya Hari Jadi Kabupaten Kudus ke-477 tersebut.
Raihan prestasi ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi pihak sekolah. Pencapaian tersebut sekaligus membuktikan bahwa generasi muda mampu mengenal, memahami, dan melestarikan kebudayaan daerah Kudus melalui karya yang kreatif dan sarat makna.
Bagi Dyah dan seluruh tim, gelar Juara 2 merupakan hasil kompensasi yang sangat membanggakan. Namun, nilai kebersamaan, kebiasaan gotong royong, dan tumbuhnya kecintaan terhadap budaya lokal dianggap sebagai bentuk kemenangan yang sesungguhnya.
Di balik suksesnya pertunjukan yang meriah di jalanan kota Kudus, terdapat proses panjang yang dimulai dari koordinasi awal dan diskusi intensif untuk merumuskan konsep karya secara matang.
Tim penyusun tidak hanya berfokus pada estetika luar dari tradisi khajatan. Mereka menggali secara mendalam nilai-nilai tersirat di dalamnya hingga melahirkan konsep pertunjukan yang utuh, harmonis, dan kaya akan pesan moral.
Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam penataan musik, garapan tari, pembuatan properti, hingga penyusunan koreografi lapangan. Musik pendukung dirancang secara khusus sesuai arahan sutradara agar mampu menyatu dengan alur cerita yang dibawakan.
Di bawah bimbingan pelatih profesional, gerak tari dan pola lantai disusun sedemikian rupa agar selaras dengan tema utama khajatan. Setiap gerak dirancang untuk mengomunikasikan pesan kebersamaan serta kegembiraan warga.
Seluruh elemen seni tersebut diuji melalui proses latihan intensif. Para siswa menggembleng diri dengan menghafal gerakan, menyesuaikan tempo musik, memperagakan penggunaan properti, hingga membangun chemistry kekompakan di lapangan.
Tentu perjalanan latihan tak lepas dari berbagai kendala teknis maupun nonteknis. Kendati demikian, gerakan yang belum kompak terus diulang, perbaikan properti dilakukan berkali-kali, dan keselarasan musik terus disempurnakan hingga titik optimal.
Kerja keras, kreativitas, dan proses panjang yang dilalui bersama akhirnya membuahkan hasil manis. Seluruh unsur pertunjukan menyatu secara utuh dan sukses membawa identitas serta nama baik SMPN 1 Kudus di ajang Karnaval Budaya Kabupaten Kudus ke-477.
Bagi seluruh keluarga besar SMPN 1 Kudus, raihan gelar Juara 2 ini menjadi pengingat berharga tentang makna sengkuyung. Perjalanan ini membuktikan bahwa di balik sebuah karya agung terdapat kerja bersama dan banyak tangan yang saling menguatkan demi menghidupkan budaya daerah.