Kudus, Kudusterkini.com - Keberhasilan pementasan Tari Caping Kalo oleh 670 penari di Kabupaten Kudus tidak sekadar memecahkan rekor dunia semata. Momentum bersejarah ini menjadi pintu masuk strategis untuk mendorong pengakuan Caping Kalo sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) tingkat nasional.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bergerak cepat memberikan sinyal dukungan penuh. Langkah ini diambil guna menyelamatkan keberadaan kerajinan Caping Kalo yang kini kondisinya kian langka di masyarakat.
Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Giring Ganesha, menegaskan bahwa kementeriannya telah menerjunkan tim khusus di lapangan. Tim tersebut bertugas mengawal secara intensif seluruh tahapan berkas pengajuan Caping Kalo menjadi WBTB Nasional.
“Saya sudah koordinasi dengan tim di lapangan untuk terus mengawal proses ini. Sebab pengajuan WBTB tanpa dukungan penuh dari pemerintah daerah tentu akan sangat sulit,” ujar Giring saat memberikan keterangan resmi.
Giring menjelaskan bahwa mekanisme penetapan WBTB nasional menggunakan jalur *bottom-up* atau dari bawah ke atas. Oleh sebab itu, sinergitas antara dinas terkait, budayawan, dan pengrajin menjadi kunci utama keberhasilan penetapan tersebut.
Faktor mendesak yang membuat pengakuan WBTB ini harus digenjot adalah kondisi regenerasi pengrajin Caping Kalo di Kudus. Saat ini, jumlah maestro pengrajin yang menguasai teknik pembuatan topi anyaman bambu khas tersebut berada pada taraf sangat terbatas.
Giring menilai perlindungan hukum dan status kebudayaan resmi perlu segera direalisasikan. Langkah ini penting agar keterampilan tradisional tersebut memiliki payung hukum serta perhatian program yang jelas dari negara.
“Caping Kalo ini harus cepat-cepat kita jadikan warisan budaya takbenda tingkat nasional Indonesia. Kita harus menyadari realita di lapangan bahwa pengrajinnya saat ini tinggal sedikit,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Kementerian Kebudayaan telah menyiapkan serangkaian program taktis guna merespons kondisi tersebut. Salah satu agenda utamanya adalah memfasilitasi program transfer pengetahuan langsung dari maestro pengrajin lama kepada generasi muda.
Dalam kesempatan tersebut, Giring juga menyampaikan apresiasi tinggi atas kolaborasi lintas sektor yang terjalin di Kudus. Acara ini sukses digelar berkat sinergi Pemkab Kudus, PT Noyorono Tobacco Internasional, dan Yayasan Karya Bakti Noyorono.
Menurut mantan vokalis Nidji tersebut, pola kerja sama antarelemen merupakan fondasi penting dalam menjaga kebudayaan daerah. Pendekatan kolaboratif ini sejalan dengan arahan serta visi kerja kebudayaan Presiden Prabowo Subianto.
“Pak Menteri Fadli Zon dan saya sangat percaya pada kekuatan kolaborasi. Saling melengkapi dan saling mendorong adalah instruksi utama agar kebudayaan Nusantara tetap berdiri tegak,” tambahnya.
Gayung bersambut, Pemerintah Kabupaten Kudus menyatakan kesiapannya untuk melengkapi seluruh dokumen pendukung. Pemerintah daerah berkomitmen memfasilitasi kebutuhan para pengrajin Caping Kalo agar dapur produksi mereka tetap mengepul.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menegaskan pihaknya akan terus menyusun skema perlindungan budaya secara bertahap. Penguatan Caping Kalo dinilai tak hanya berdampak pada nilai seni, tetapi juga pada roda ekonomi kreatif kerakyatan.
Melalui dorongan status WBTB Nasional ini, diharapkan ikon budaya Caping Kalo tidak sekadar menjadi kenangan sejarah, melainkan mampu menginspirasi generasi muda Kudus untuk bangga memelihara tradisi leluhurnya.