Benteng Kesehatan Kudus: Mengapa Ratusan Ribu Pelajar Kini Jadi Target Utama Tes Kesehatan Gratis?

31 Agustus 2026



KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus terus tancap gas memperluas jangkauan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Memasuki tahun kedua pelaksanaannya, program strategis ini tidak hanya menyasar masyarakat umum, tetapi kini memprioritaskan kelompok usia sekolah sebagai target utama screening kesehatan secara menyeluruh.

Langkah masif ini diambil sebagai komitmen daerah dalam memperkuat garda pencegahan (preventif) dan edukasi (promotif). Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus menegaskan bahwa deteksi dini merupakan kunci utama untuk memetakan potensi gangguan kesehatan pada anak sejak usia seawal mungkin.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Nuryanto, mengungkapkan bahwa perjalanan CKG yang dimulai sejak awal 2025 telah menyasar spektrum usia yang sangat luas. Program inklusif ini dirancang untuk melayani masyarakat lintas generasi, mulai dari bayi yang baru lahir hingga warga kelompok lanjut usia (lansia).

Fokus utama dari CKG adalah memastikan bahwa penyakit mendasar dapat terdeteksi sebelum berkembang menjadi ancaman serius. Dengan penanganan cepat di tahap awal, masyarakat diharapkan tidak perlu sampai mengalami kondisi berat yang membutuhkan perawatan medis berbiaya tinggi.

“CKG ini sudah masuk tahun kedua. Kami terus melakukan evaluasi dari pelaksanaan sebelumnya untuk memaksimalkan kegiatan, karena sasaran program sangat luas, mulai anak yang baru lahir sampai lansia,” ujar Nuryanto saat menjelaskan arah kebijakan CKG.

Memasuki fase kedua ini, Dinas Kesehatan Kudus mengusung strategi jemput bola yang lebih agresif. Pemeriksaan kesehatan tidak lagi pasif menunggu pasien di puskesmas atau fasilitas kesehatan, melainkan langsung mendatangi pusat-pusat aktivitas masyarakat.

Untuk melipatgandakan daya jangkau, Dinkes Kudus menjalin sinergi lintas sektor dengan menggandeng berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD), lini perusahaan swasta, hingga memanfaatkan momen-momen keramaian publik di seluruh wilayah Kudus.

Momen tahun ajaran baru menjadi momentum emas bagi tim medis untuk bergerak masuk ke lingkungan sekolah. Para pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) menjadi sasaran prioritas screening kesehatan secara berkala.

Skema pelayanan CKG di sekolah-sekolah digelar secara konsisten setiap hari Senin hingga Sabtu. Petugas medis dari puskesmas setempat sudah bersiap sejak pagi hari, sekitar pukul 07.00 hingga 08.00 WIB, untuk melakukan pemeriksaan fisik dan kesehatan dasar kepada para siswa.

"Pelayanan CKG dilaksanakan Senin hingga Sabtu pada pagi hari, sekitar pukul 07.00 atau 08.00 WIB. Petugas melakukan screening kesehatan awal terhadap siswa," jelas Nuryanto mengenai teknis operasional di lapangan.

Sistem rujukan berjenjang juga telah disiapkan dengan matang. Jika dalam screening ditemukan indikasi kelainan fisik, gangguan tumbuh kembang, atau masalah kesehatan lainnya, siswa akan segera dirujuk ke Puskesmas terdekat untuk pemeriksaan lanjutan.

Bagi kasus-kasus khusus yang membutuhkan penanganan medis spesialis dan penanganan ekstra serius, pasien anak akan langsung diteruskan ke rumah sakit rujukan daerah agar mendapatkan perawatan komprehensif.

Sementara itu, bagi para siswa yang dinyatakan sehat dan bebas dari masalah kesehatan, petugas tetap memberikan perhatian khusus. Mereka dibekali dengan edukasi seputar Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta pentingnya menjaga daya tahan tubuh secara mandiri.

“Kalau ditemukan kelainan akan dirujuk ke Puskesmas, kemudian apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut diteruskan ke rumah sakit. Kalau tidak ada temuan, tetap diberikan edukasi dan promosi kesehatan,” terang Nuryanto mendetail.

Momentum CKG ini juga diintegrasikan dengan agenda Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang berlangsung sepanjang bulan Agustus. Integrasi ini melingkupi pemberian imunisasi HPV bagi anak perempuan untuk mencegah risiko kanker leher rahim (serviks), serta imunisasi MR untuk mencegah penularan campak dan rubella.



Strategi fokus pada sektor pendidikan ini terbukti membuahkan hasil signifikan. Kelompok anak sekolah tercatat sebagai penyumbang terbesar dalam capaian total CKG di Kudus, di mana realisasi daerah telah menyentuh angka mendekati 52 persen dari target provinsi Jawa Tengah sebesar 54 persen.

“Capaian terbanyak saat ini berasal dari kelompok anak sekolah. Secara keseluruhan sudah mendekati 52 persen dari target provinsi 54 persen,” paparnya mengapresiasi kerja keras tim di lapangan.

Di samping pemeriksaan fisik dan imunisasi, Pemkab Kudus juga menyeimbangkan langkah pencegahan stunting melalui penguatan asupan nutrisi. Program Gemar Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) terus digencarkan mengingat konsumsi protein hewani sangat vital bagi tumbuh kembang otak anak.

Meski Kudus secara geografis tidak memiliki wilayah pesisir atau pantai, ketercukupan pasokan ikan laut tetap terjaga dengan baik. Kebutuhan pangan bergizi ini disokong penuh oleh distribusi dari kabupaten tetangga seperti Jepara, Demak, Pati, hingga Rembang.

Nuryanto menyoroti bahwa pemenuhan gizi harus dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode emas (golden age) ini merupakan fondasi paling kritis yang menentukan kualitas fisik dan kecerdasan anak di masa depan.

"Harapannya kolaborasi berbagai pihak dapat membantu mempertahankan capaian kesehatan Kudus sekaligus memperluas kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan penyakit sejak dini," tutup Nuryanto optimistis.