KUDUS – Ruang kreativitas bagi anak-anak usia dini di Kabupaten Kudus kembali bergeliat lewat ajang seni yang edukatif. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mengasah kepercayaan diri dan menyalurkan bakat terpendam generasi pencetak masa depan sejak usia belia.
Bunda PAUD Kabupaten Kudus, Endhah Sam’ani Intakoris, secara resmi menghadiri pembukaan ajang bergengsi Early Childhood Art Festival III (ECA Fest III). Kehadirannya menjadi bentuk dukungan nyata terhadap perkembangan dunia pendidikan anak usia dini di wilayah tersebut.
Festival seni yang dinanti-nantikan ini digelar di Gedung Laboratorium Terpadu Lantai 5 Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus. Suasana lokasi acara tampak meriah dan dipenuhi antusiasme tinggi dari para peserta, pendamping, serta para tamu undangan.
Perhelatan berskala daerah ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari berturut-turut, yakni pada tanggal 3 hingga 4 Juni 2026. Acara resmi dimulai pada hari Rabu (3/6/2026) dengan menampilkan berbagai performa pembuka yang memukau.
ECA Fest III dirancang khusus untuk menjadi wadah positif bagi anak-anak usia dini dalam menampilkan kreativitas, bakat, dan keberanian berekspresi. Melalui media ini, anak-anak diberikan panggung seluas-luasnya untuk mengeksplorasi potensi diri mereka.
Berbagai seni pertunjukan kolaboratif yang edukatif dan menyenangkan turut disajikan sepanjang acara berlangsung. Mulai dari seni tari, musik, hingga drama pendek ditampilkan secara apik oleh para peserta yang masih polos namun penuh semangat.
Dalam kesempatan tersebut, Endhah Sam’ani Intakoris menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya stimulasi pada masa emas anak. Ia menaruh harapan besar agar potensi anak-anak di Kabupaten Kudus dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sejak dini.
Menurut Endhah, seni bukan sekadar hiburan visual atau sarana berekspresi semata bagi anak-anak. Lebih dari itu, seni memiliki fungsi yang jauh lebih besar dalam membentuk fondasi psikologis dan mental spiritual anak.
Melalui aktivitas seni yang berkelompok dan interaktif, anak-anak diajarkan untuk membangun kepercayaan diri yang kuat di depan publik. Hal ini dinilai sangat efektif untuk mengikis rasa canggung dan takut yang kerap dialami anak usia dini.
Tidak hanya itu, festival semacam ini juga dinilai mampu mengasah kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi antar-sesama peserta. Anak-anak belajar bagaimana bekerja sama dalam sebuah tim untuk menyajikan sebuah pertunjukan yang harmonis.
Endhah juga menambahkan bahwa nilai-nilai estetika dalam seni dapat membangun karakter positif pada diri anak. Karakter inilah yang nantinya akan menjadi bekal paling penting bagi generasi penerus dalam menghadapi tantangan masa depan yang kian kompleks.
Pihak panitia penyelenggara dari UIN Sunan Kudus juga memastikan bahwa seluruh rangkaian festival dikemas dengan metode yang ramah anak. Pendekatan bermain sambil belajar menjadi kunci utama agar anak-anak tidak merasa tertekan selama berkompetisi.
Melalui kesuksesan pembukaan ECA Fest III ini, diharapkan sinergi antara akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam memajukan PAUD terus terjaga. Festival ini diharapkan mampu melahirkan generasi Kudus yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kaya akan kreativitas dan berkarakter kuat.