​Tak Ingin Pedagang Sengsara, DPRD Kudus Minta Pembangunan Sekat Kios Pasar Babe Dikebut

16 Mei 2026

KUDUS - Suasana aktivitas jual beli masih terlihat di Pasar Barang Bekas (Babe) Desa Jati Wetan, Kabupaten Kudus, meski para pedagang hingga kini masih menempati lapak sementara pascakebakaran yang terjadi beberapa waktu lalu. 

Kondisi tempat berdagang yang belum memadai membuat para pedagang harus bertahan di tengah berbagai keterbatasan.

Bangunan berdinding seng yang digunakan sebagai lokasi relokasi sementara dinilai belum mampu memberikan kenyamanan, terutama saat musim hujan. Air kerap masuk ke area lapak dan menyebabkan barang dagangan milik pedagang basah.

Ketua Paguyuban Pasar Babe, Haryanto, mengatakan kondisi tersebut masih menjadi keluhan utama para pedagang yang bertahan berjualan di lokasi sementara.

“Kalau hujan deras, air masuk ke lapak. Terutama di bagian selatan, pakaian dagangan sampai basah semua dan setelah hujan harus dijemur lagi,” katanya, Minggu (17/5/2026).

Menurutnya, para pedagang saat ini masih berupaya bangkit setelah terdampak kebakaran pasar. Tidak sedikit pedagang yang kehilangan modal usaha sehingga belum bisa kembali berdagang secara normal.

“Banyak yang masih berusaha memulihkan kondisi ekonomi. Ada yang sementara kerja proyek, ada juga yang berjualan online karena belum punya modal untuk buka lapak lagi,” ujarnya.

Ia menyebut jumlah pedagang yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 264 orang. Namun dari jumlah tersebut, hanya sekitar 90 pedagang yang masih aktif berjualan di tempat relokasi sementara.

“Yang masih bertahan di sini sekitar 90-an pedagang,” jelasnya.

Kondisi pasar sementara itu juga mendapat perhatian dari Anggota Komisi B DPRD Kudus, Sayid Yunanta, saat melakukan peninjauan ke lokasi pasar. Ia menilai para pedagang membutuhkan tempat usaha yang lebih layak agar aktivitas ekonomi bisa kembali berjalan maksimal.

“Para pedagang ini sudah cukup lama bertahan di los sementara dan semuanya dilakukan dengan biaya sendiri setelah kebakaran,” ungkap Sayid.

Ia mengatakan pemerintah daerah sebenarnya telah menyiapkan lokasi baru untuk pasar. Namun pembangunan kios permanen masih menunggu kesiapan anggaran.

“Lokasi baru sudah tersedia, sekarang tinggal pembangunan sekat kios yang sedang diupayakan,” katanya.
Sayid menambahkan, pihak DPRD akan mencoba memasukkan rencana pembangunan kios tersebut dalam pembahasan anggaran perubahan tahun 2026. Jika belum terealisasi,
penganggarannya akan diusulkan kembali pada tahun 2027.

“Kami akan melihat kemampuan anggaran di perubahan 2026 terlebih dahulu. Kalau belum memungkinkan, akan kami dorong lagi pada 2027,” tegasnya.

Ia berharap Pasar Babe nantinya dapat dibangun dengan konsep yang lebih tertata dan nyaman sehingga mampu menghidupkan kembali aktivitas perdagangan serta menarik minat masyarakat untuk datang berbelanja.

“Harapannya pasar ini nanti lebih nyaman, tertata, dan bisa membuat pedagang maupun pembeli merasa betah,” tandasnya.