‎Melestarikan Tradisi Klasik, Ponpes Tasywiqul Furqon Kudus Sukses Gelar Ujian Nyewu‎

04 Mei 2026

‎KUDUS – Suasana sarat nilai ilmiah Islam menyelimuti Pondok Pesantren Tasywiqul Furqon Kudus pada Jumat (1/5/2026) yang lalu, bertepatan dengan 13 Dzulqa’dah. Pesantren tersebut kembali menggelar momen penting bagi para santri melalui kegiatan Ujian Nyewu 1002 bait Kitab Alfiyyah Ibnu Malik.
‎Sebanyak 17 santri mengikuti ujian yang menguji ketajaman hafalan sekaligus kedalaman pemahaman mereka terhadap tata bahasa Arab (nahwu dan sharaf). Hafalan 1002 bait Alfiyyah ini menjadi syarat wajib kelulusan bagi santri di pesantren tersebut.
‎Proses mencapai hafalan tersebut tidak mudah. Para peserta harus melalui ujian ketat yang dinilai langsung oleh empat penguji berkompeten, yakni K. Ahmad Shofi Lutfi, Ustadz Noor Rohim, Ustadz Muhammad Fatkhul Umam, dan Ustadz Khoirul Ma’arif.
‎Pengasuh Pondok Pesantren Tasywiqul Furqon Kudus, K.H. Ahmad Bahruddin, S.Pd.I., M.Pd., Ph.D. (c), menegaskan bahwa kewajiban hafalan ini bukan sekadar syarat administratif kelulusan.
‎“Kegiatan ini bertujuan melestarikan tradisi menghafal teks-teks klasik, sekaligus memperkuat kemampuan memahami kandungan ilmiah dalam 1002 bait Alfiyyah,” ujarnya.
‎Ia menambahkan, penguasaan tata bahasa Arab menjadi kunci utama dalam memahami berbagai disiplin ilmu keislaman seperti tafsir, hadis, dan fikih secara komprehensif.
‎Lebih lanjut, ia juga mengingatkan bahwa Kitab Alfiyyah merupakan karya ulama besar Muhammad bin Abdullah bin Malik al-Andalusi dari Andalusia (Spanyol) pada abad ke-7 Hijriah, yang hingga kini tetap menjadi rujukan utama dalam kajian ilmu nahwu.
‎Di tengah arus modernisasi, kebijakan menjadikan hafalan Alfiyyah sebagai syarat kelulusan menunjukkan komitmen pesantren dalam menjaga keaslian tradisi keilmuan Islam. Kajian kitab kuning dan teks klasik dinilai sebagai langkah strategis untuk membangun santri yang berkarakter kuat, berintegritas, serta memiliki pemahaman agama yang mendalam.
‎“Semoga seluruh peserta, para pengajar, dan keluarga besar pesantren senantiasa mendapatkan keberkahan,” tutupnya.
‎Ia menyebut bahwa keberhasilan 17 santri dalam menuntaskan Ujian Nyewu ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya untuk terus mencintai, menghidupkan, dan melestarikan warisan keilmuan para ulama terdahulu.