KUDUS — Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (PKPLH) mengambil langkah proaktif menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 H / 2026 M. Instansi ini secara resmi mengeluarkan seruan kepada seluruh elemen masyarakat untuk mulai meninggalkan kebiasaan lama dalam mendistribusikan daging kurban, khususnya penggunaan kantong plastik hitam sekali pakai.
Kepala Dinas PKPLH, Didik Tri Prasetya, menegaskan bahwa momentum hari raya keagamaan ini harus menjadi titik balik kepedulian lingkungan. Pihaknya mengimbau panitia kurban di masjid-masjid dan musala agar beralih ke wadah yang lebih ramah lingkungan. Langkah ini dinilai krusial mengingat lonjakan volume sampah plastik selalu menjadi masalah klasik setiap tahunnya selepas pemotongan hewan kurban.
"Kami mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat momentum Idul Adha 2026," ujar Didik Tri Prasetya saat memberikan keterangan resmi kepada awak media di kantornya. Menurutnya, kesadaran kolektif dari masyarakat sangat dibutuhkan agar perayaan ibadah tidak menyisakan masalah baru bagi bumi.
Didik menjelaskan bahwa tujuan utama dari gerakan ini adalah untuk menekan timbunan sampah yang biasanya melonjak tajam dalam satu hari penuh. Selain itu, pembatasan ini juga krusial dalam rangka menjaga lingkungan sekitar pemukiman agar tetap bersih, sehat, dan bebas dari bau tak sedap yang disebabkan oleh tumpukan limbah plastik bercampur sisa darah hewan.
Sebagai solusi pengganti, Dinas PKPLH menyarankan masyarakat dan panitia kurban untuk kembali memanfaatkan kearifan lokal atau wadah alternatif yang dapat dipakai ulang. Penggunaan daun jati, daun pisang, besek bambu, hingga container plastik (kotak bekal) mandiri yang dibawa oleh warga dari rumah sangat direkomendasikan karena jauh lebih aman bagi kesehatan.
Pihak dinas juga mengaku telah berkoordinasi dengan jajaran pemerintah desa dan tokoh agama setempat untuk menyebarluaskan edukasi ini. Dengan adanya sinergi yang kuat, diharapkan rantai penggunaan plastik sekali pakai dapat diputus mulai dari hulu hingga ke hilir pada perayaan tahun ini.
Menutup keterangannya, Didik Tri Prasetya berharap gerakan "Idul Adha Hijau" ini tidak hanya menjadi tren sesaat, melainkan menjadi pemantik gaya hidup baru yang berkelanjutan bagi masyarakat. Lingkungan yang bersih dan sehat, menurutnya, adalah cerminan dari nilai-nilai kesucian yang diajarkan dalam esensi ibadah kurban itu sendiri.