Menafsir Ulang Pingitan, Tradisi Lokal di Tengah Perubahan Zaman

27 April 2026


KUDUS – Upaya membaca kembali tradisi lokal di tengah perubahan zaman diwujudkan melalui film dokumenter Gadis Pingitan yang digagas rumah produksi Saka Karsa.

Berkolaborasi dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia serta Pemerintah Kabupaten Kudus, proyek ini hadir sebagai ruang refleksi terhadap makna pingitan yang selama ini kerap disalahpahami.

Film ini mengangkat kisah Rania, remaja yang tumbuh di kawasan Kudus Kulon. Melalui sudut pandangnya, penonton diajak melihat pingitan tidak hanya sebagai simbol keterbatasan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan perlindungan diri perempuan. Pendekatan poetic documentary dipilih untuk menghadirkan narasi yang lebih emosional dan mendalam.

Ketua MGMP Bahasa Indonesia, M. Arif Budiman, menyampaikan bahwa proyek ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026. Ia menegaskan bahwa karya ini lahir dari keresahan para pendidik terhadap kondisi pendidikan keluarga yang masih menghadapi berbagai ketimpangan.

“Film ini menjadi medium untuk menyampaikan bahwa praktik lama seperti perjodohan sudah tidak lagi relevan. Kami ingin mendorong kesadaran bahwa pendidikan keluarga harus berkembang mengikuti zaman,” ujarnya.

Menurut Arif, produksi ini merupakan kelanjutan dari karya sebelumnya yang juga mengangkat isu sosial di dunia pendidikan. Ia menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menghadirkan karya yang tidak hanya artistik, tetapi juga berdampak.

Penulis naskah, Elang Ade Iswara, menambahkan bahwa ide film ini juga berangkat dari fenomena keterbukaan berlebihan di era digital. Ia melihat pingitan justru menawarkan sudut pandang berbeda tentang pentingnya ruang privat.

“Kami ingin menghadirkan perspektif baru. Pingitan bukan sekadar batasan, tetapi bisa menjadi ruang aman untuk mengenal diri, menjaga nilai, dan membangun kedaulatan pribadi,” kata Elang.

Sementara itu, sutradara Azka Azami menekankan kekuatan visual sebagai elemen utama dalam menyampaikan pesan film. Ia menggunakan pendekatan sinematik yang intim dengan permainan cahaya dan bayangan untuk menonjolkan suasana ruang domestik.


“Kami tidak hanya merekam peristiwa, tetapi juga suasana. Detail kecil seperti jendela, kain, hingga aktivitas membordir menjadi cara kami menghadirkan pengalaman yang lebih hidup bagi penonton,” jelasnya.

Pemerintah Kabupaten Kudus turut memberikan dukungan penuh terhadap produksi ini. Bupati Kudus menyebut film tersebut sebagai langkah penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus membuka ruang dialog publik.

Film Gadis Pingitan dijadwalkan tayang pada 9 Mei 2026 di Auditorium Universitas Muria Kudus, bersamaan dengan pementasan teater bertema serupa. Kegiatan ini diharapkan mampu memicu diskusi tentang batas antara tradisi, perlindungan, dan kebebasan perempuan di era modern.