KUDUS, Perjalanan panjang penuh kesabaran akhirnya mengantarkan Suherman (51) warga Desa Bacin, Kecamatan Bae, seorang buruh angkut di Pasar Kliwon Kudus, untuk menunaikan ibadah haji tahun ini.
Bersama sang istri, Emy Setyowati (46), ia membuktikan bahwa tekad kuat mampu mengalahkan keterbatasan ekonomi.
Sehari-hari, Suherman menggantungkan hidup dari pekerjaannya sebagai porter di pasar dengan penghasilan sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 120 ribu per hari. Dari pemasukan tersebut, ia menyisihkan sebagian secara rutin sebagai tabungan haji.
“Saya tidak punya cara khusus, yang penting setiap ada rezeki pasti saya sisihkan. Niatnya sudah dari lama,” kata Suherman, Senin, 20 April 2026.
Ia mengaku menjalani keseharian dengan penuh disiplin. Setelah bekerja sejak pagi, ia masih memanfaatkan waktu siang hingga sore untuk mencari tambahan penghasilan demi mencukupi kebutuhan keluarga sekaligus menabung.
“Kalau lagi ramai ya bisa lebih, tapi kalau sepi ya cukup untuk makan. Yang penting tetap ada yang ditabung, walaupun sedikit,” ujarnya.
Kesungguhan itu mulai menunjukkan hasil saat ia mendaftarkan diri haji pada 2013. Setelah penantian selama 13 tahun, Suherman dan istrinya akhirnya mendapat kesempatan berangkat tahun ini melalui kuota haji tambahan.
Namun, panggilan tersebut datang secara mendadak sehingga ia harus segera menyiapkan biaya pelunasan sekitar Rp50 juta.
“Sempat kaget juga karena waktunya dekat. Tapi saya yakin pasti ada jalan, jadi tetap saya usahakan,” ungkapnya.
Di lingkungan kerja, Suherman dikenal sebagai sosok pekerja keras dan rendah hati. Rekannya, Muhammadun, menyebut Suherman sebagai pribadi yang tidak pernah mengeluh meski menghadapi pekerjaan berat setiap hari.
“Dia itu orangnya tekun, tidak pernah mengeluh. Kalau ada teman butuh bantuan, pasti dia yang pertama membantu,” kata Muhammadun.
Menurutnya, sikap Suherman yang selalu sabar dan tidak mudah marah membuatnya disukai banyak orang di pasar.
“Selama ini saya tidak pernah lihat dia marah. Orangnya selalu tenang dan ringan tangan,” tambahnya.
Kisah perjuangan Suherman pun menjadi inspirasi bagi rekan-rekannya sesama buruh angkut. Di tengah keterbatasan, ia mampu membuktikan bahwa mimpi besar tetap bisa diraih dengan kerja keras dan ketekunan.
Kini, Suherman dan istrinya hanya bisa bersyukur atas kesempatan yang akhirnya datang setelah penantian panjang.
“Alhamdulillah, ini rezeki yang tidak saya sangka. Semoga bisa berangkat dengan lancar,” pungkasnya.