Dosen UMK Ingatkan Efek Domino Harga Minyak Dunia terhadap Ekonomi Indonesia

31 Maret 2026


UMK – Ketegangan geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah diperkirakan akan memberi dampak pada perekonomian global, termasuk Indonesia. Konflik yang memanas antara Iran, Israel, dan United States dinilai berpotensi memicu gangguan distribusi minyak dunia.

Dosen dari Universitas Muria Kudus (UMK), Muhammad Teguh Kuncoro, S.E., M.B.A., menjelaskan bahwa salah satu titik strategis distribusi minyak dunia berada di Strait of Hormuz. Jika jalur tersebut terganggu, maka pasokan minyak global dapat mengalami penurunan dan keterlambatan distribusi.

“Ketika pasokan minyak menurun sementara permintaan relatif tetap, maka secara hukum ekonomi harga akan cenderung naik. Kondisi ini membuat biaya distribusi meningkat dan berdampak pada naiknya harga pokok minyak dunia,” jelasnya.

Ia menambahkan, harga minyak dunia yang sebelumnya berada di kisaran USD64 per barel kini berpotensi melonjak hingga sekitar USD100 per barel akibat meningkatnya risiko geopolitik global.

Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyaknya, Indonesia tidak terlepas dari dampak tersebut. Kenaikan harga minyak dunia akan berpengaruh pada besarnya anggaran subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah.

Menurut Teguh, jika harga minyak terus meningkat, subsidi BBM dapat membengkak sehingga berpotensi memperlebar tekanan terhadap anggaran negara. Pemerintah pun perlu mencari sumber pendapatan tambahan, baik dari sektor pajak, penerimaan non-pajak, maupun kebijakan pembiayaan lainnya.

“Dalam jangka pendek, dampak yang paling terasa adalah pada harga BBM non-subsidi yang mengikuti mekanisme pasar. Sementara pemerintah tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga BBM subsidi,” ujarnya.

Namun demikian, kenaikan harga BBM non-subsidi berpotensi memicu perubahan perilaku konsumsi masyarakat. Sebagian masyarakat kelas menengah kemungkinan akan beralih menggunakan BBM subsidi. Jika lonjakan permintaan ini tidak diantisipasi dengan baik, kondisi tersebut dapat memicu kelebihan permintaan atau excess demand yang berujung pada antrean panjang bahkan kelangkaan BBM.

“Kita bisa belajar dari kondisi di Philippines, di mana gangguan distribusi BBM sempat memicu kepanikan masyarakat karena pasokan tidak berjalan optimal,” tambahnya.


Lebih lanjut, Teguh juga menyoroti dampak tidak langsung dari kenaikan harga BBM terhadap harga berbagai barang kebutuhan. BBM merupakan komponen penting dalam biaya distribusi barang. Ketika harga bahan bakar naik, biaya pengiriman barang pun meningkat sehingga harga jual di tingkat konsumen ikut terdorong naik.

Kondisi tersebut dapat menimbulkan efek berantai atau multiplier effect terhadap perekonomian, yang pada akhirnya berpotensi memicu inflasi serta menurunkan daya beli masyarakat.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat mulai lebih bijak dalam mengelola keuangan pribadi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Masyarakat sebaiknya melakukan evaluasi terhadap pengelolaan keuangan, mengatur kembali prioritas kebutuhan, serta memastikan pendapatan mampu memenuhi kebutuhan pokok dan dana cadangan. Situasi global saat ini menuntut kita untuk lebih siap dan waspada,” pungkasnya. (HUMAS-UMK)