KUDUS – Upaya pemulihan infrastruktur pascabencana di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus mulai membuahkan hasil.
Pembangunan talut sungai sepanjang kurang lebih 110 meter telah rampung dan kini memberikan rasa aman bagi warga yang sebelumnya terdampak banjir dan hujan ekstrem.
Talut tersebut dibangun setelah bencana pada Februari lalu merusak tanggul sungai di sejumlah titik, sehingga air meluap hingga ke kawasan permukiman, terutama di wilayah RT 7 RW 6.
Kepala Dusun Ngembalrejo, Rifa’i, mengatakan banjir saat itu terjadi akibat kondisi tanggul yang sudah tidak mampu menahan debit air sungai.
“Waktu kejadian, air naik sangat cepat karena tanggul sudah rapuh. Beberapa bagian tidak kuat menahan tekanan air hingga akhirnya jebol,” kata Rifa’i, Jumat (27/2/2026).
Ia menuturkan, sebelum bencana terjadi, pemerintah desa sebenarnya telah mengajukan usulan perbaikan talut. Namun karena keterbatasan penanganan, belum semua titik bisa diperbaiki.
“Kondisi talut di sini memang sudah lama dan kualitasnya menurun. Kami sudah mengajukan perbaikan, tapi belum seluruhnya bisa direalisasikan,” ujarnya.
Saat ini, masih terdapat beberapa lokasi lain yang memerlukan perbaikan lanjutan, di antaranya di Dukuh Boto Lor RW 5, RW 1, serta dua titik di Dukuh Boto Kidul.
“Masih ada empat titik rawan yang perlu ditangani supaya wilayah ini benar-benar aman dari ancaman banjir,” jelasnya.
Dalam masa tanggap darurat, penanganan awal dilakukan dengan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Kudus melalui BPBD Kabupaten Kudus dan Dinas PUPR Kabupaten Kudus.
Bantuan berupa tanah uruk, karung pasir, serta alat berat dikerahkan untuk menutup tanggul yang rusak.
“Waktu itu kondisi sangat darurat, dan kami langsung dibantu material tanah uruk serta alat berat supaya air tidak terus masuk ke rumah warga,” ungkap Rifa’i.
Selain itu, bantuan alat berat juga difasilitasi oleh BBWS Pemali Juana melalui penggunaan excavator long arm untuk memperkuat bagian tanggul yang rawan longsor.
“Kami berterima kasih karena BBWS Pemali Juana membantu pengerahan alat berat untuk memperkuat tanggul yang belum memiliki parapet,” katanya.
Rifa’i menambahkan, dukungan juga datang dari aspirasi anggota MPR RI yang mendorong percepatan penanganan di lokasi terdampak.
Pada akhir Februari, desa tersebut menerima paket pembangunan talut sungai dengan konstruksi batu pasang. Proyek tersebut dikerjakan selama kurang lebih 26 hari, mulai 31 Januari hingga 25 Februari 2026.
“Talut dibangun hampir sepanjang 110 meter dan berada di Dukuh Boto Kidul RT 7 RW 6. Sekarang kondisinya sudah jauh lebih kuat dibanding sebelumnya,” terang Rifa’i.
Dengan selesainya pembangunan talut, warga berharap risiko banjir besar tidak kembali terulang seperti saat bencana lalu.
“Harapan kami, kalau nanti hujan deras lagi, air bisa tertahan dan tidak langsung meluap ke permukiman. Warga sekarang lebih tenang,” pungkasnya.