Wabup Kudus Beri Waktu Seminggu Bentuk Tim Bina Lingkungan Atasi Serangan Lalat Peternakan Ayam

Kamis, Oktober 01, 2026


KUDUS, Kudusterkini.com – Wakil Bupati Kudus Bellinda Sabrina Birton mengambil langkah tegas terkait maraknya keluhan warga mengenai wabah lalat di pemukiman. Pemerintah Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, kini diberikan tenggat waktu satu minggu untuk membentuk Tim Bina Lingkungan guna mengawasi operasional peternakan ayam.

Keputusan mendesak ini disampaikan langsung oleh Wabup saat turun ke lapangan meninjau peternakan ayam AJP Farm pada Kamis (1/10/2026). Peninjauan tersebut dilakukan secara mendadak setelah pemerintah daerah menerima rentetan laporan dari masyarakat yang merasa terganggu oleh populasi lalat yang kian meluas.

Masalah serangga ini tidak hanya meresahkan rumah tangga, tetapi juga mulai merambah dan mengganggu lingkungan sekolah di sekitar area peternakan. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terkait potensi penurunan kualitas kesehatan serta kebersihan di lingkungan belajar mengajar.

Guna mengatasi persoalan secara menyeluruh, Bellinda menjelaskan bahwa Tim Bina Lingkungan nantinya akan diisi oleh lintas sektor. Keanggotaan tim mencakup jajaran pemerintah desa, tokoh masyarakat setempat, hingga pengurus RT dan RW di wilayah terdampak.

Tak hanya jajaran tingkat desa, pemilik kandang ayam juga diwajibkan masuk dalam jajaran tim pengawas. Kolaborasi ini juga akan diperkuat oleh Muspika serta dinas teknis terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus.

Tim lintas sektoral ini nantinya memikul mandat utama untuk memantau aktivitas operasional peternakan secara berkala. Salah satu prioritas tugas mereka adalah memastikan seluruh pemilik kandang menjalankan prosedur penyemprotan disinfektan dan pengontrol serangga secara rutin.

Penegasan terkait batasan waktu pembentukan tim pengawas ini disampaikan langsung oleh Wabup sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah. Ia menegaskan bahwa pihak kabupaten tidak akan tinggal diam dan akan langsung turun melalukan evaluasi begitu batas waktu berakhir.

”Saya memberikan waktu satu minggu untuk membentuk Tim Bina Lingkungan. Setelah itu, kami akan melakukan monitoring dan evaluasi untuk melihat perkembangannya,” tegas Bellinda di sela-sela peninjauannya.

Selain memfokuskan penanganan pada area kandang, pemerintah daerah juga menyiapkan langkah antisipasi khusus untuk fasilitas pendidikan. Bellinda mengusulkan pengadaan perangkap serangga yang dipasang di sekolah-sekolah yang terdampak langsung.

Langkah ini dinilai sangat krusial agar keberadaan serangga tidak sampai merusak konsentrasi dan kenyamanan aktivitas belajar para siswa. Selain itu, upaya ini sangat penting untuk melindungi higienitas makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan kepada peserta didik.

Mengenai sanksi berat berupa penutupan peternakan, Bellinda menyampaikan bahwa pemerintah tidak bisa serta-merta mengambil tindakan drastis tanpa melalui mekanisme operasional yang baku. Langkah terukur dan evaluasi bertahap tetap harus diprioritaskan terlebih dahulu.

Kendati demikian, opsi penutupan tempat usaha tetap terbuka lebar jika pemilik usaha dinilai tidak mengindahkan aturan. Rekomendasi penutupan dapat diterbitkan apabila ada peternak yang terbukti tidak kooperatif dan terus membandel mengabaikan ketentuan lingkungan yang berlaku.


Di sisi lain, pengelola AJP Farm (Anthoni Jaya Perkasa), Heri Hermawan, memberikan klarifikasi terkait operasional usaha yang dijalankannya. Ia menegaskan bahwa pihak manajemen telah berupaya maksimal menjalankan prosedur sanitasi lingkungan secara berkala setiap harinya.

”Kami sudah menjalankan biosekuriti. Setiap pagi dan sore kami melakukan penyemprotan di lingkungan dan area peternakan. Kami juga melakukan penyemprotan ke lingkungan warga,” ujar Heri menerangkan komitmen pembersihan yang telah berjalan.

Heri menambahkan bahwa penanganan dampak lingkungan tersebut juga telah menyasar area publik dan fasilitas pendidikan. Pihaknya menerjunkan tim khusus untuk menyemprot pemukiman warga di tingkat RT hingga area SD Bulungcangkring 3, serta membagikan lem lalat untuk membantu meringankan beban sekolah.

Terkait melonjaknya populasi lalat, Heri menjelaskan bahwa fenomena tersebut berkaitan erat dengan siklus pemeliharaan ayam broiler. Masa pemeliharaan hingga panen yang berlangsung sekitar satu setengah bulan menuntut adanya pengerukan kotoran kandang, yang secara alami memicu daya tarik bagi lalat.

Kondisi tersebut makin kompleks lantaran jadwal panen antar-kandang di Desa Bulungcangkring tidak berlangsung secara bersamaan. Akibatnya, aktivitas pengerukan kotoran terjadi secara bergantian dan terus-menerus. Ia menekankan bahwa penanganan wabah lalat ini butuh sinergi penuh dari seluruh pemilik 21 peternakan ayam yang beroperasi di wilayah tersebut.